Selasa, 10 September 2013

have you ever heard my problem?

No, I guess not

I realize I'm too afraid to share my problem with others
my biggest reason is I don't think they will listen, encourage and sooth me. I always listen to their problems and give them solution or at least a respond. I'm afraid they're see me as a tough person who can deal with her problems

have you ever imagined a lion cry?

yes I feel I have no one to share, even they will say "we can share". and it's too normal for me to keep silent forgetting my problem, or facing them alone. crying in silence in the night maybe the worst situation. I have a lovely family and kind hearted friends but I dont know I can't.... talk

in the end I always compare mine and their problem "oh I think mine isn't as big as their's"

#np Still I miss you by infinite on repeat

Sabtu, 03 Agustus 2013

hukum relativitas

halo :)
masih dalam suasana KKN, oh dan puasa. beberapa hari lagi lebaran. sebelumnya minal aidin wal fa'idzin dulu, mohon maaf lahir batin kalo aku ada salah ucap atau sempat menyinggung perasaan teman-teman, baik secara tulisan maupun lisan. Met idul fitri juga buat yang merayakan :D

iya, jadi judul postingan kali ini yaitu hukum relativitas. bukan, ini bukan hukum yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan itu. aku bahkan lupa hukum relativitas yang itu seperti apa. tapi kali ini aku mau cerita sedikit tentang pengalaman selama KKN, yang semua berkaitan dengan kata "relatif".

Jadi KKN itu kita harus menyatu dengan masyarakat dan teman-teman baru yang tentunya berbeda dengan kehidupan keseharian. Selain harus beradaptasi, juga harus bisa kontrol emosi dalam menyikapi segala perbedaan. Setiap peserta aku yakin juga mengalami masalah yang harus disikapi. Hmm sebenernya bukan masalah besar, ini tentang membuat keputusan. Kadang ada situasi di mana kamu mendapat pilihan untuk menentukan apakah kamu mau mengikuti perintah/ajakan teman-teman atau tidak. Ketika aku mengikuti kehendak mereka yang merupakan kehendak ku juga, pasti aku bilang iya. Namun ketika aku mendapat ajakan atau perintah, bahkan ajakan baik sekalipun, di saat aku tidak ingin melakukannya dan sama sekali tidak ada niat untuk melakukannya, aku akan bilang tidak. Bagaimanapun, aku berani bilang tidak. Tujuannya satu, aku nggak mau melakukan hal-hal yang di luar niat ku. Aku pribadi takut jika aku terpaksa melakukan suatu hal, aku bukanlah aku. Itu bukan diriku yang sebenarnya. Dan aku benci menjadi orang yang berpura-pura atau munafik. Yang paling tau tentang dirimu adalah dirimu sendiri.

Bilang tidak adalah caraku untuk menyikapi masalah seperti ini. Aku sadar aku tidak harus selalu meng-iya-kan perkataan orang lain. Terkesan egois, memang. Namun aku pribadi juga sadar bahwa keberadaanku di sini tidak 100% untuk mengabdi. Nggak mau munafik, KKN buatku untuk syarat wisuda aja. Sekalian mengabdi. Ilmu yang aku dapat di sini banyak, tapi pengalaman nggak enak juga banyak. Tapi tidak semua ajakan aku respon dengan "tidak", kadang aku tobat juga kalo ajakan teman-teman itu baik. Balik lagi ke awal, tergantung niat. Dan niatku tidak setiap hari baik.

Itu tadi masalah niat-nggaknya melakukan sesuatu yang mendapat kata "relatif". Sekarang, aku mau komentar tentang kesibukan. Tiap orang punya hobi, kesibukan dan urusan masing-masing. Tempat dan waktunya juga berbeda-beda. Ketika ada waktu luang, sebagian orang memilih untuk melakukan hobi dan sebagian lagi memilih untuk bepergian atau bertemu dengan teman bahkan keluarga. KKN ini, kita semua diberi free days selama 3 hari, entah H-3 atau H+3 lebaran. Dalam waktu free 3 hari, logikanya, aku nggak mungkin balik ke bekasi. PP jkt-jogja butuh waktu 9-10 jam. Aku pasti capek di jalan. Tiket kereta api juga habis, kalo masih ada pun juga selangit harganya. Jadi aku memutuskan turun dari lokasi KKN di gunungkidul ke kota jogja. Mungkin dengan jalan-jalan ke malioboro, mampir ke mall atau menikmati sepinya kosan bisa mengurangi stres. Bersantai itu kan tidak harus bersama-asma, tidak harus dikelilingi oleh orang lain. Pernah dengar istilah "me time"? ya, aku di lokasi KKN jarang-jarang dapet me time karena di sini kami tinggal serumah. Dengan berada di kos sendiri dan bebas jalan-jalan, aku ingin mendapatkan me time-ku kembali. Kebetulan nanti beberapa teman kuliah juga ikut turun ke jogja. Semoga kami bisa bertemu walau 1-2 jam. Aku kangen mereka!! Turunnya aku ke jogja merupakan hadiah untuk ku. Namun ada juga yang memilih untuk pulang ke kampung halamannya. Itu sah-sah saja karena rumahnya mudah dijangkau dan tidak membutuhkan waktu perjalanan yang terlalu lama dan ongkos yang besar. Memang, mereka menyarankanku untuk tetap berada di lokasi KKN karena ada beberapa teman yang juga stay di lokasi dan tidak pulang, daripada balik ke kosa dan kesepian. Tidak, menurutku yang selalu bisa mengisi waktu luang dngan hobi dan seorang penikmat sepi. Itu semua relatif, kawan. Menurutku, justru ada banyak sekali hal yang bisa aku lakukan dalam waktu 3 hari di jogja, walau sepi.

Itu aja yang bisa aku bagi malam ini. Oya, 31 agustus nanti infinite akan konser di jakarta. Akirnya T__T
aku udah pesen tiketnya. Semoga konsernya nggak batal ya, karena denger-denger yang beli tiket baru sedikit. Nanti pasti aku ceritain gimana serunya One Great Step in Jakarta di sini.

Annyeong!

Senin, 08 Juli 2013

aduh kok filmnya biasa banget ya

halo halo
ini lagi masa KKN, kepala agak pusing jadi memilih utnuk nonton film hasil copy-an dari HD temen. Barusan nonton film Korea "Mr. Idol" yang keluar tahun 2011 lalu. Dari awal agak nggak tertarik nonton karena pemainnya kurang kenal. Tapi daripada nonton drama yang harus ngikutin per episode jadi lebih baik nonton film.

Hmm, jujur menurutku filmnya nggak begitu bagus. Awalnya aku takut film ini jual Jay Park, dengan kata lain meningkatkan jumlah penonton dengan memasukkan idol di dalamnya padahal ceritanya biasa aja. Setelah nonton, yaa emang agak jual Jay Park sih. Begini, kalo kamu googling ketik Mr.Idol, yang keluar pasti poster filmnya, dan di dalam poster tersebut ada si Jay Park pake baju yang yaaaa bisa dibilang seksi bahkan badboy. Iya, awalnya aku mengalah dan akhirnya memutuskan untuk menonton film tsb karena terpancing dengan posternya. Ternyata oh ternyata, filmnya agak mellow ya. Di sini aku nggak mau nulis sinopsis, biar kalian tonton sendiri aja. Di sini aku cuma mau nulis tentang hal-hal yang, mungkin, kurang aku suka dalam film tersebut.

Jadi yang pertama itu tadi, jual Jay Park. Ya tau lah ya bagi yang suka kpop Jay Park itu siapa, idol yang dance-nya keren banget. Nilai jualnya tinggi kalo doi main film. Kostum di poster dan kostum di dalam filmnya jauh. Di filmnya, Jay Park jadi salah satu member boyband yang baru debut, and ofc he's the main dancer. Btw jadi itu boyband ada 4 orang, jelas Jay Park main dancer, terus pemeran utamanya itu jadi vokalis, trus yang satu jadi rapper. Nah yang satu lagi itu aku bilang agak nyampah karena posisinya nggak jelas dan emang nggak ada penekanan dalam film, entah dia jadi visual atau gimana. Toh kalo jadi visual juga masih lebih kece Jay Park dan main vocal-nya.

Kedua, eng ing eng banget kalo yang ini, ada 4 member UKISS dalam film. Dongho, Kiseob, Seohyun dan Hoon tceritanya bentuk boyband bernama Wonder Boys, nah WB ini saingannya boyband si Jay Park dkk. Pertanyaannya adalah kenapa harus UKISS? ya aku cukup suka UKISS walau akhir-akhir ini udah nggak ngikutin. Tapi ya kenapa harus mereka? kenapa harus 4 member itu? kenapa nggak pake kevin sama eli yang biasanya lebih menonjol? dan di dalam film tsb, ada scene dimana WB menang dalam sebuah music show. Woow, was that NH Ent's dream? yaaa agak ironi sih ya selama sekian tahun nggak pernah menang satu kali pun di music show dan menangnya malah di film. Itu pun ujung-ujungnya juga kalah lagi sama boybandnya Jay Park. Mungkiiiin NH Ent mau coba cara promosi baru dengan memasukkan sebagian anak buahnya di film, biar eksis gitu. Hm oke

Ceritanya biasa banget, layaknya kamu nonton Wonderful Radio. Aku nggak ngerti klimaks dari film ini dimana. Oya, di pertengahan menuju akhir film mereka ceritanya mengikuti Gayodaejun (festival musik akhir tahun) yang biasa diadakan oleh stasiun televisi di Korea. Oke, mereka pake inisial stasiun televisinya HBS, plesetannya lumayan lah. Nah setauku gayodaejun itu stage-nya gede banget, bahkan butuh beberapa stage agak semua artis bisa tampil secara urut. Nah di film ini stage-nya kecil banget, bahkan lebih kecil dari ukuran stage music show pada umumnya. Iya jadi itu seperti taman kota yang punya dudukan mengelilingi panggung terus diset menjadi sebuah stage. Kreatif sih, tapi kenapa harus gayodaejun? Kenapa nggak pake plesetan salah satu music show aja?

Mungkin salah satu alasan kenapa aku bertahan nonton film ini hingga selesai karena pemeran utamanya yang cowok (ngak hapal siapa namanya) mirip Lee Joon. Untuk yang suka film romance, film ini nggak terlalu menonjolkan sisi cinta-cintaan. Ada sih, dikit. Film ini lebih menunjukkan sisi perjuangan mencapai impian. 

Dari 1-10, aku kasih poin 5 untuk film ini. Jujur, biasa banget. Ini film yang tonton-hapus kalo kamu nonton di laptop dan HD-mu udah cukup penuh.

Senin, 10 Juni 2013

Bengong itu ternyata perlu ya

Kadang aku pribadi mengalami saat-saat di mana bukan waktunya untuk panik tapi pikiran ribet sendiri. Aku kadang diam beberapa saat sambil mikir, tapi nggak tau apa yang lagi dipikir. Rasanya ada sesuatu yang harus aku pikirin saat itu juga, tapi ketika aku tanya sama diriku sendiri apa yang lagi aku pikir, aku nggak tau. Iya, seperti ada yang nyuruh aku untuk buru-buru sehingga sering panik.

Malem ini sebenernya aku lagi nggak selo. Tadi ngerjain UAS take home komsetra tapi terpaksa nggak bisa ngerjain banyak-banyak dulu karena materinya harus dikonsultasikan ke dosen besok. Terus ngerjain laporan magang, tengah-tengah ngetik materi malah males. Akhirnya buka folder MV dan setel The Chaser dance version. Bengong. Aku ulang lagi. Bengong lagi. Bukan, bukan bengong liatin yang nyanyi. Bukan lagi ngapalin gerakan juga. Tapi sambil merenung. Biasanya aku merenung nggak tiap minggu dan momennya suka datang tiba-tiba. Kalo harus merenung pas makan, ya aku diam saat itu juga. Kadang kita butuh momen dimana kita mencari ketenangan sendiri dan berpikir pelan-pelan.

Boleh percaya boleh nggak, dari 1 jam lalu MV yang aku puter cuma 1 itu dan aku repeat mode: on. Jadi udah lebih dari 20 kali aku ulang dan sekarang, pas aku ngetik postingan ini, earphoneku masih muter musiknya. GOM playernya aku minimize sebentar. Dan mungkin ini akan berlanjut hingga 1 jam ke depan. Matiin lampu kamar, kunci pintu, tutup jendela. Pas merenung tadi tiba-tiba inget rumah. Oke mungkin kamu boleh sebut aku anak macam apa, tapi akhir-akhir ini aku makin males untuk pulang. Nggak ada semangat-semangatnya balik ke rumah seperti semester awal dulu. Tapi tadi pas nonton MV malah kepikiran pengen pulang, setidaknya nginjek lantai rumah dan liat bapak ibu. Itu aja. Terus tadi kepikiran tugas juga. Padahal UAS take home-nya nggak ada yang susah-susah amat. Tinggal dikerjain, ke perpus, cari referensi sana-sini, selesai. Tugas editing juga tinggal edit, toh tiap hari lab editing buka. Terus kepikiran KKN, masih abstrak banget nggak tau gambaran lokasi dan kegiatannya nanti. Terus inget isi timeline tadi sore yang sempet bikin aku agak misuh-misuh.Terus kepikiran nanti semester depan mau ngapain aja. Terus inget-inget kemarin habis ngapain, kemana, dll.

Ya kurang lebih seperti itu isi pikiranku kalo lagi diam. Ada banyak hal yang muncul di otak dalam waktu yang bersamaan kadang buat aku panik sendiri dan aku susah mengontrolnya. Kalo aku ngomong "aduh aku lagi mikir tapi nggak tau aku mikir apa", tolong maklumi ya. Sempet dulu ada yang merespon "kamu kenapa, Meg?" dan aku diam. Emang nggak tau. Momen-momen seperti ini yang aku butuh, merenung, walau kadang timing-nya nggak pas.

*lanjut merenung*

Minggu, 02 Juni 2013

Sur...Surpriiiiise

halo :)
Sudah sebulan nggak update blog jadi nggak enak.
Hmm oke, aku mau ngomong nulis sedikit tentang diriku yang juga baru aku sadari. Ini ada kaitannya sama judul di atas. Surpriiise~ =__=

Jadi minggu lalu aku sempet konsultasi sama ayahnya Kak Mega, kakak angkatanku di komunikasi. Tujuan awal mau mengurangi fobiaku dengan laba-laba. Yaa mulai ada perubahannya sih. Tadi pagi aku ketemu sama musuh bebuyutanku ini di kamar dan reaksiku lebih stabil, tapi tetep ambil obat serangga dan semprotin doi sampai tak berdaya :(

Sebelumnya aku ngerasa aku juga punya ketakutan yang aneh. Aku ngerasa takut sama gambar hewan dan tumbuhan yang berwarna dan ukurannya cukup besar. Aku hampir selalu tutup mata setengah tiap buka majalah Trubus, wikipedia, ensiklopedia atau buku biologi. Padahal gambarnya nggak kenapa-kenapa, gambar biasa. Tapi aku selalu takut untuk liat dengan waktu cepat (misal aku iseng buka buku biologi secara acak dan kebetulan halaman yang aku buka itu ada gambar bunga Rafflesia Arnoldi besar banget) dan saat itu jantungku rasanya mau copot. Kadang sampai keringat dingin dan pusing. Ini serius loh. Tiba-tiba suka kaget liat objek yang menurutku 'aneh' atau nggak biasa diliat di kehidupan sehari-hari. Setelah ditelusuri, aku orangnya gampang banget kaget. Jadi sebenernya bukan gambar atau objeknya, tapi timing-nya. Reaksiku akan beda kalo kamu nunjukin aku gambar ubur-ubur raksasa dengan tiba-tiba atau dengan perlahan. 

Ternyata aku nggak bisa dibikin kaget. Hmm mungkin kalo kamu mau coba kagetin aku dari belakang, aku nggak begitu kaget karena posisimu ada di belakangku. Tapi kalo kamu coba lempar sesuatu yang aku nggak tau persis apa wujudnya ke arah mukaku, aku bisa shock. Iya, di masa lalu aku banyak dikagetkan dengan hal-hal seperti itu dan itu bikin aku trauma. Aku baru inget waktu awal SMA aku di-chat sama temen yang iseng ngasih aku link untu dibuka. "Coba gedein volume speaker atau earphone kamu deh. Ini lagunya enak loh". Dengan polosnya aku pasang earphone dan menaikkan volume komputer. Tada...... ternyata itu link buat ngerjain orang. Itu loh, pas dibuka langsung ada muka serem banget trus suara teriakan serem. Saat itu juga aku nge-blank dan memutuskan untuk nggak mau ngobrol sama temenku itu lagi.

Ini sebenernya bukan aib sih. Yaa tiap orang punya keanehannya masing-masing. Aku hanya berbagi apa yang ada di diriku sekaligus ngasih tau ke temen-temen untuk jangan kagetin aku dengan cara apapun.  Jangan nambahin traumaku ya, hehe. Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku paling nggak suka dikasih surprise sama orang lain.

bye...

Kamis, 18 April 2013

I know, Gyu. I know

You said the world outside isn't easy, right?
and I knew you're such a work hard person. I could tell by knowing you and your 6 buddies did dance practice 18 hours a day

The world outside isn't easy as it looks.
I know, Gyu. I know
Sometimes I realize that I haven't do anything even for me yet. For my future life
I'm still lacking at everything
But I'm fighting for my dream.

To be honest sometimes I was mad w/ my friends who couldn't do their own task and gave everything to me
I couldn't shout at them
Wishing they'll learn from what they did
The world isn't easy as it looks
Let the world show you how the reality works and you have to struggle for it
Let the world remind you how hard it is

Be responsible for yourself
You can't live properly if you're still like this, friends
At least train yourself to be pro

Thank you, Gyu, for reminding me that I should study. Thank you

Selasa, 09 April 2013

Dia Mengharapkan Perdamaian. Ada yang Salah?

Barusan baca artikel ini dan berpikir ulang.

Beberapa hari lalu Infinite menang di music show Inkigayo untuk kedua kalinya saat promo lagu Man in Love, dan untuk kelima kalinya menang jika dihitung dengan music show lainnya. Di akhir acara, seperti yang tertulis di artikel di atas, Sunggyu bilang kalau dia berterima kasih kepada semua member, Inspirits, CEO dan orang-orang dekat mereka. Sunggyu juga bilang semoga kedamaian dunia segera datang.

Saat itu, di timeline Twitter-ku penuh dengan update-an ucapannya Sunggyu. Beberapa fanbase internasional yang aku follow untuk beberapa menit membuat candaan dari ucapan Sunggyu tersebut. Mereka ber-LOL-ria dan seolah tidak menyangka jika Sunggyu, sebagai leader Infinite yang saat itu menang di music show, malah mengharapkan perdamaian dunia. Saat itu di bawah pengaruh tweet dari fanbase lain, aku juga ikut ketawa. "Ngapain deh Sunggyu ngomong gitu? Random amat."

Sekarang aku agak merasa bersalah sih ngetawain dia.

Bagaimana pun, walau dia artis dan momen untuk mengucapkannya kurang tepat, tapi dia tetap warga negara Korea Selatan, negara yang sedang dalam keadaan tidak aman karena mendapat ancaman dari Korea Utara. Ya aku nggak tau sih para admin dari fanbase itu orang Korea atau bukan. Tapi kalau di antara mereka ada yang orang Korea, seharusnya mereka bisa mengesampingkan sisi fangirl mereka dan berpikir sejenak tentang maksud pesannya Sunggyu. Itu dalem loh. Aku yang bukan orang Korea, yang negaraku tidak terlibat dengan perselisihan itu, cukup tersentuh sama ucapannya. Mungkin Sunggyu pribadi nggak terlalu mengurusi masalah tersebut. Toh dia juga tidak dalam wajib militer dan masih sibuk dengan kariernya. Tapi tetap aja, dia warga negara sana dan pasti merasa nggak aman. Bayangin, misal Indonesia sedang dibawah ancaman serangan nuklir yang bisa datang kapan aja, apa kamu nggak takut?

Sunggyu termasuk member yang jarang ngasih ucapan terima kasih. Tapi sekalinya dapat kesempatan, dia langsung bilang begitu :"

Mungkin aku terlalu menganggap serius masalah ini. Mungkin saat itu Sunggyu juga ngomong iseng aja. Tapi di balik omongannya, aku yakin ada maksud tertentu. Dia mengharapkan perdamaian.

Selasa, 02 April 2013

April mop?

2 April 2013
Untuk pertama kalinya dalam hidup aku dikabarkan sekarat dan akan pergi dari dunia ini selamanya.

April mop?
Harusnya April mop itu tanggal 1, tapi ini terjadi di keluargaku tanggal 2. Hari ini. Tadi pagi lebih tepatnya.
Seseorang menelpon rumahku. Asisten rumah tangga yang mengangkat telepon tersebut dan ibuku berbicara dengan orang di seberang sana.

"Ini orangtua dari Mega Dini? Anak Ibu kuliah di UGM kan? Mega habis kecelakaan, jatuh dari tangga kampus. Otak kecilnya bermasalah. Sekarang sudah di RS Sarjito dan membutuhkan biaya pengobatan. Mega tidak bisa dioperasi karena kemungkinan besar akan gagal. Mega harus segera diterapi, dan membutuhkan biaya 25 juta. Ibu tolong transfer uang tsb ke rekening ini (lalu menyebutkan nomor rekening) dalam waktu 15 menit ini. Segera ya Bu, karena kalo lewat dari itu nanti udah lewat (udah keburu meninggal maksudnya)."

Yang menelpon ini laki-laki, mengaku sebagai dokter yang menanganiku.

Kurang lebih isi pesan di telepon seperti itu. Aku diceritain sama ibuku yang setengah syok setengah lega setelah dengar suaraku yang baik-baik aja (sambil ketawa malah). Ibuku sangat polos. Sejak TK sampai sekarang aku selalu diingatkan untuk selalu hati-hati di manapun, jangan mudah percaya sama orang tak dikenal, jangan terima makanan minuman sembarangan, dll. Tapi ibuku kayanya juga nggak update sama modus-modus penipuan. Yaaah....

Dalam keadaan panik ibuku telpon ayahku yang udah di kantor. Untungnya ayahku lebih paham urusan penipuan, jadi sambil menenangkan ibuku, dia telpon aku. Aku yang baru selesai mandi sedang siap-siap ke kampus terima telpon dari ayah. Aku semangat angkatnya karena kupikir dia telpon untuk ngabarin uang bulanan udah dikirim. ternyata...

"Mega, kamu di mana sekarang?"
"Di kos, mau kuliah. Ini lagi pake baju baru selesai mandi."
"...kamu, nggak apa-apa kan?"
Aku bingung. Tumben amat tanya begitu.
"Nggak apa-apa. Kenapa?"

Lalu aku diceritain deh panjang lebar sama ayahku. Nggak lama setelah itu ibuku telpon. Dari suaranya aku tau dia ketakutan campur cemas campur lega aku nggak apa-apa. Aku bilang sama dia kalo modus penipuan kaya gitu udah lama di Jogja. Sejak semester 1 udah banyak temanku yang kena modus seperti itu. Yah nasib ya jadi anak rantau, jauh dari orangtua, eh orangtua malah jadi sasaran empuk penipu.

Ibuku SMS ke aku, dia bilang 2 menit setelah telpon tadi terima telpon lagi "Bu, uangnya udah dikirim belum? Ini kondisi Mega semakin drop" sambil menangis.

Yang jadi pertanyaanku, kenapa si penipu tau namaku, kuliahku di mana dan bahkan nomor rumahku. Aku mungkin sering ngasih nomorku ke orang lain, tapi itu nomor ponsel pribadiku. Aku nggak pernah ngasih nomor rumah. Bahkan di CV atau berkas-berkas yang aku kirim ke banyak tempat pun hanya mencantumkan nomor ponsel, bukan nomor rumah. Sempat berpikir penipu ini kenal atau tau aku secara personal, atau dia liat data anak-anak UGM dan kebetulan disitu ada nomor rumahku. 
Anggap aja dia fan-ku. Sasaeng fan-ku, hehehe.

Dear penipu, terserah kamu mau bilang kondisiku seperti apa. Mungkin otak kecilku bermasalah, tapi mungkin otakmu lebih bermasalah dibanding otak kecilku. Atau mungkin punyamu lebih kecil?
Aku tau kamu sudah berusaha dengan baik untuk menipu orangtuaku, tapi lain kali berpikir lebih rasional ya. Setidaknya perhatikan detil tiap kebohongan yang kamu buat. Ya, untungnya sasaranmu ini kok belajar komunikasi jadi tau maksud dari semua perkataanmu.

Pertama, tolong transfer uang dalam waktu 15 menit. Seandainya ibuku beneran tertipu dan langsung transfer uang tanpa telp ayahku terlebih dahulu, lalu ibuku mengabarkan penipu bahwa dia sudah transfer, lalu penipu ke ATM untuk mengambil uang dan segera 'mengobati'ku, mustahil itu semua bisa dilakukan dalam waktu 15 menit. Ibuku transfer atau nggak, itu pasti melebihi 15 menit dan nyawaku udah nggak tertolong. Sama aja. Intinya, penipu ingin segera mendapatkan uang. Kalo versi kalimat langsung nan sangarnya, "Serahin gue duit 25 juta dlm 15 menit ini atau anak lo ga selamat". 

Kedua, kalo nggak salah tadi kata ibuku yang telpon ini mengaku sebagai dokternya. Trus penelpon kedua sebagai guru (mungkin maksudnya dosen). Oke, Bung, tau nggak kalo dokter hidupnya nggak se-selo itu? Sangat amat jarang sekali ada dokter yang menelpon LANGSUNG orangtua pasiennya untuk mengabarkan kalo anaknya sekarat dan BAHKAN meminta orangtua tsb untuk segera transfer uang. Apalagi kalo dokter dan pasien nggak ada hubungan apa-apa, nggak saling kenal dan sebagainya.

Ketiga, seharusnya orang yang menelpon orangtua ketika melihat seseorang mengalami kecelakaan di area kampus adalah temannya sendiri atau minimal mahasiswa 1 fakultas. Mereka yang gerak cepat, segera mengambil ponsel korban dan berusaha keras mencari nomor rumah orangtuanya untuk memberi kabar bahwa anaknya kecelakaan. Itu yang dilakukan teman-temanku dulu saat aku masuk IGD karena terpeleset dan lutut kiriku geser. Dear penipu, tolong bikin storyboard atau kerangka cerita dulu ya kalo mau beraksi.

Keempat, dear penipu yang mengaku sebagai dosenku, kalo kamu liat aku, mahasiswimu, kecelakaan dan luka parah, bagaimanapun caranya kamu akan menyelamatkanku, kan? Kamu nggak harus menunggu orangtuaku untuk transfer uang dulu, kan? Atau kamu, yang mengaku sebagai dosenku, akan membiarkanku meninggal karena masalah biaya? Kalau aku jadi dosen, aku akan pakai uangku terlebih dahulu untuk menyelamatkan anak didikku, terlebih jika kondisinya seperti itu.


Ibuku mengirimkan SMS berisi nomor ponsel penipu pertama dan kedua. Aku bingung ibuku mendapatkannya dari mana. Dan entahlah nomor ini mau aku apakan. Mau ngasih April mop, tapi kok momennya udah lewat.

Btw tadi dapat berita baik dari ibu. Kakak iparku udah hamil 2 bulan, Insya Allah November melahirkan. Hore aku segera punya keponakan. Dan hore aku udah jadi tante-tante -______-"


Sabtu, 23 Maret 2013

UMG vs International kpop fans

Aku baru pulang dari kampus. Iya, minggu-minggu gini ke kampus demi selesaiin kerja kelompok -__-
Sampai kos buka laptop dan twitteran, liat trending topic dan #giveuskpop menarik perhatianku. Aku klik dan baca beberapa tweet. Aku menemukan ini diantara sekian banyak tweet dan, oke, aku tau permasalahannya sekarang.




Aku jadi inget seminar yang beberapa hari lalu aku ikuti bertajuk East Asia as Pop Culture and a Soft Power and Its Implication to Indonesia. Dalam seminar itu sempat dibahas juga Kpop dan pembicara menunjukan daftar negara yang memiliki kpop fans terbesar di dunia. Seingatku di tabel tersebut ada 7 negara. Di posisi 1 adalah Jepang, posisi 2 adalah USA, dan sisanya ada Indonesia, Hong Kong, Thailand, dll. Aku nggak sempat catat urutannya, yang jelas Indonesia posisi 6 dan Thailand ada di atas Indonesia. Jumlah kpop fans di akhir tahun 2012 di Indonesia sekitar 81 ribu sedangkan di USA dan Jepang sudah menyentuh ratusan ribu. Ternyata di Indonesia masih relatif sedikit ya dibanding USA.
Pembicaranya juga sempat menyinggung soal Kpop di USA. Mungkin selama ini kita sebagai fans di Asia berpikir bahwa Kpop walau tersebar di semua benua (Afrika juga loh) tapi fans Asia paling banyak. Iya, kalau itu diakumulasikan. Tapi fans di USA itu jumlahnya nggak main-main. Yaaa mungkin cewek-cewek Amerika lagi doyan liat cowok Asia ya :D

Kembali ke topik. Tadi sempat googling dan dapat info kalau UMG itu berbasis di Amerika. Aku langsung "ooh pantess".
Aku pikir wajar aja kalo industri musik Amerika jealous dengan kehadiran Kpop. Industri musik terbesar di dunia 'dijajah' sama Kpop. Kalau Jepang sebagai industri musik terbesar no.2 di dunia sih udah nggak usah ditanya lagi.
Aku pikir tindakan UMG ingin memblokir video-video Korea adalah bukti bahwa industri musik Amerika ingin kembali seperti dulu, di mana mereka bisa dengan bebas menginvasi negara lain dan menyebarkan musik Amerika ke seluruh penjuru dunia tanpa ada saingan. Ya bayangin aja, sekian persen penduduk Amrik yang awalnya menikmati musik mereka sendiri sekarang beralih ke Kpop. Otomatis pendapatan musik Amerika berkurang, pasar mereka berkurang. Belum lagi di negara lain. Apalagi sekarang Kpop sudah berani menggelar konser di UK dan USA, mengeluarkan album bahasa Inggris bahkan berkolaborasi dengan penyanyi tingkat internasional.

Coba bayangkan sekarang kalo kamu adalah musisi Amerika dan mulai kesulitan karena pengaruh Kpop di negaramu besar sekali. Kamu tentu kesal, pasarmu dicuri orang Asia. Padahal biasanya kamu mudah banget jual kemana aja.

Aku di sini sebagai fangirl Asia ikutan kesal sama tindakan UMG. Oke, wilayah Asia memang belum menjadi target pemblokiran, dan aku pikir UMG nggak berhak memblokir akses video di wilayah Asia. Dan pikirku... kalau memang benar Amerika adalah industri musik terbesar, kenapa mereka takut dengan Kpop? Okelah Kpop sekarang mendunia banget, strategi pemasarannya canggih. Tapi apakah mau Amerika jatuh, takut, dan akhirnya memblokir gitu aja? Mereka takut disaingi? Padahal asal tau aja, sekian persen Kpop  itu ter-influence oleh musik Amerika. Percaya deh.

Aku pribadi bingung kalau mau berkomentar banyak. Di satu sisi, UMG nggak berhak memblokir karena Youtube, Dailymotion dll adalah ruang publik juga, siapapun boleh mengaksesnya dan mendapatkan informasi dari sana. Di satu sisi, musik Amerika kesannya minta dikasihani karena didatangi Kpop yang mungkin mulai mengancam kekuatannya.

Ya udah gitu aja

If someone gives you a sign like I am raight now, then please notice it




I do notice...

ini aku baru bangun tidur lagi agak malas-malasan sambil dengerin lagu-lagunya infinite. Iseng cari lirik lagu-lagu dari album New Challenge yang english translation. Dan barusan aku baca yang Man In Love


I start humming along to love songs that I didn’t like before
All of the melodramas in the world seem like my story
I try to look good when I didn’t before by paying attention to my appearance
I’m acquiring the bitter taste of coffee
Time goes so fast and my heart grows impatient
I imagine you next to me and film a movie of my own
When a man’s in love, he wants to stay by your side
There’s always so much he wants to do for you
When I’m in love, I want to give everything in my life to you
With just one expectation, your heart
When I’m in love
When a man’s in love, when a man’s in love
My cheeks get redder and my head slowly drops
I’m only looking at you as I’m on my way
My confession gushes out as if I’ve been crazily running
When a man’s in love, even if he loses ten to gain one
He gives all he has as if today is the last day so he won’t regret – all I have
Like a young child, I keep laughing for no reason
I control myself by saying that I’m different from others
When a man’s in love, he wants to stay by your side
There’s always so much he wants to do for you
When I’m in love, I want to give everything in my life to you
With just one expectation, your heart
When I’m in love
I can’t escape because I’m in too deep
The letters in my book are dancing as they form your name
As if you’re the main character of the movie, as if you’re the moon in the sky, I keep seeing you
I draw you out every day – my heart will rest only when you come into my arms
I’ll be your resting place that will never cool down
Look carefully – if you feel this, that means he’s fallen for you
If someone gives you a sign like I am right now, then please notice it
When a man’s in love, he wants to stay by your side
There’s always so much he wants to do for you
When I’m in love, I want to give everything in my life to you
With just one expectation, your heart
When I’m in love
When a man’s in love, when a man’s in love
When I’m in love, when I have fallen for you


Read more: http://www.kpoplyrics.net/infinite-man-in-love-lyrics-english-romanized.html#ixzz2OPjDf6Bw 


Sebelum aku baca liriknya aku udah bayangin ini lagu pasti tentang tanda-tanda cowok lagi falling in love. Dan ternyata bener. Lagu ini kaya ngasih pesan ke semua cewek "kalo kamu ketemu cowok dengan sikap atau tanda-tanda seperti ini, artinya dia suka kamu" dan aku langsung kaya "ooooh...."
Ya aku nggak sepolos itu juga sih. Aku tau tanda-tandanya.
Dan lagu ini kok kaya buat aku ya? hehehe. Beberapa hari ini lagi menerima segala tanda yang mengarah ke situ dari seseorang. Nggak tau deh interpretasi semua tanda ini sebenernya sesuai dengan maksud pengirimnya apa gimana. Nikmati aja


Namjaga saranghaltae!!

[Review] Infinite's "Man in Love" MV: videoklip atau iklan?!

Setelah menyelesaikan aktivitas di kampus yang lumayan padat beberapa hari ini akhirnya sempat juga nulis review tentang videoklip terbarunya Infinite. Pas video ini keluar aku lagi seminar dan kuliah jadi hebohnya pas malem. Lagunya bagus. Liat beberapa teaser Man In Love awalnya pesimis karena takut konsepnya balik ke era Nothing's Over. Aku pribadi kurang suka konsep yang berwarna dan lagunya ceria banget. Berharap Infinite pas comeback konsepnya manly seperti Be Mine atau The Chaser. Tapi Man In Love berhasil buat aku jatuh hati <3

Setelah download mini albumnya, album baru Infinite bertajuk New Challenge terkesan musim semi banget. Album ini didominasi sama lagu-lagu yang ceria dan upbeat. Ya cukup puas lah sama comeback mereka kali ini.

Balik lagi ke Man In Love, videoklipnya bagus.


Di video ini ada dua jenis kostum pas mereka nge-dance, ada yang colorful sama hitam putih. Yang colorful ini menurutku menunjukkan karakter tiap member. Aku ngerasa kostumnya Woohyun agak greasy, bunga-bunga gitu, hehe. Kostumnya Sungjong yang paling keliatan muda dan berwarna ditambah topi bulunya. Kostumnya L lebih simpel dibanding yang lain, lebih sederhana tapi tetep fun, cocok sama dia yang kalem tapi seru. Kostum Sunggyu warnanya lebih sederhana dan full pattern, leader-like yang nggak terlalu macem-macem.

Setelah nonton MV ini berkali-kali, ada pikiran-pikiran yang muncul. Beberapa scene di MV ini kayanya berpotensi untuk dijadikan iklan. Ini pikiran pribadiku, jadi mungkin berbeda sama pemikiran kalian.

1. Scene awal mereka nge-dance dengan background biru langit, dekorasi lambang Infinite warna emas sama kostum mereka yang warna-warni. Scene ini nuansanya ceria banget, musim panas banget. Dengan musik yang ceria itu aku kepikiran ini bisa untuk iklan minuman segar rasa jeruk. Floridina atau 
Minute Maid Pulpy Oranges. Pas nge-dance gitu nanti ada narasi "minuman segar dari buah asli... bla bla bla" :)))

2. Scene L bawa-bawa hp. Positif itu bisa jadi iklan Samsung Galaxy Note atau Galaxy S seri sekian

3. Scene pas mereka nge-dance pakai kostum putih hitam. Berasa pengen makan permen Blaster nggak sih?

4. Scene pas Dongwoo ambil pensil warna dan coret-coret di bukunya. Iklan Faber-Castell bisa tuh... "express your feeling through colors..." xD

5. Ini kurang kuat sih, tapi iklan YAMAHA bisa juga pas Woohyun main do re mi atau pas Sungyeol iseng main pian dan Woohyun dateng

6. Iklan lampu pijar xD
Di Indonesia iklan lampu pijar umumnya mengutamakan tingkat ketahanan dan terang tidaknya pijaran dari lampu tersebut. Kenapa nggak dibuat iklan yang mudah diingat dan berkesan, buat momen-momen tertentu (kaya si Sunggyu ini yang momennya romantis banget pasang lampu di mana-mana) sehingga memancing imajinasi dan kreativitas calon konsumen (penonton televisi).

Itu aja sih. Sampai sekarang tiap nonton MV-nya berasa pengen ngiklan terus :p


 namu... =_=





Reverse

seandainya aku punya satu tombol reverse, aku akan bingung;
aku kasih ke kamu karena aku berpikir kamu akan sangat menyenangkan jika apa yang ada dalam dirimu sekarang dibalik 180 derajat, atau
aku pakai untuk me-reverse diriku dan menerimamu apa adanya

untungnya Allah tidak menciptakan tombol itu

Jumat, 15 Maret 2013

be positive

Kalo kamu suka terhadap sesuatu, ambil positifnya. Buat mereka yang menganggapmu aneh tercengang karena kamu lebih tau dari mereka dan belajar lebih dari apa yang kamu suka

Mainan baru~ (infinite)

Malam ini lagi nganggur padahal masih ada tugas polpem tapi lagi males ngerjain dan iseng buka asianfanfics.com buat nyari fanfic woogyu <3 eh nemu postingan ini

jadi si author ngepost... ya bisa dibilang game bagi orang yang terlalu selo kaya aku.. dan yang butuh hiburan
game-nya berupa click and drag dari gambar gif gitu. nanti ada banyak gif berisi tulisan, kamu klik trus drag ke samping sampai kamu bisa baca tulisan apa yang kamu klik dari gif tsb.

Aku iseng ikutan dan pilih INFINITE dari daftar grup yang ada di link tadi. Di situ ada 8 nomor untuk infinite yaitu 231727387490, 94. Jawabannya lucu-lucu dan ada yang pas banget :'D

Mm ini hasilnya :3

No.2
SUNGYEOL, took you to THE RIVER, where he KICKED YOU, and said GO AWAY! (hahahha yang ini pas banget dasar choding xD)

dan yang kocak adalah

WOOHYUN, took you to THE MALL, where he WHISPERED IN YOUR EAR, and said EW.. (aaarh namu! xD)


No.3
You and SUNGYEOL went to HIS DORM afterwards HE CONFESSED TO YOU but HE BROKE UP WITH YOU (nggak konsisten -__-)



No. 17
Dad: MYUNGSOO (same aged daddy? :O)
Mom: MYUNGSOO (okay I have single parent!!)
Brother: SUNGYEOL (choding-ah)
Sister: SUNGJONG (pretty sister :3)
Grandpa: SUNGGYU (OMG OUR FOREVER GRANDPA IS REAL)
Grandma: WOOHYUN (ALL HAIL WOOGYU~~~)
Pet: MYUNGSOO (eh? but you're my daddy >.<)
Pillow: HOYA (..... abs pillow? /nosebleed/ /slap/)
Meal: HOYA (oh so you're eatable pillow /smirk/)


No. 27
My Birth date: January 4th

Dongwoo put a flower behind my ear, kissed me on my cheek and said: "You're pretty like a doll, so I wanted to check if you're alive"

~I'M ALIVE DONGWOO.... :*~


No. 38
MYUNGSOO and I PLAYED TAG IN A BIG FIELD and as WE CARVED OUR INITIALS ON A TREE he said "YOUR CHEEKS ARE RED, WHY ARE YOU BLUSHING?" (kejatohan ulet bulu, L, jadi gatel merah-merah /horror/ /failed/)


No. 74

I like Hoya's >///<


No. 90
Best friend: Sunggyu (omg nagging sunggyu xD)
Flirt: Myungsoo (eeiiiii....)
Roommate: Hoya :3
Husband: Hoya (that's why we're roommate :D)
Crush on you: Woohyun (namu, sebenernya aku..... >///<)
Tease: Woohyun (oh yeah =_=)


No. 94
SUNGYEOL and I KEPT MESSING UP THE RECIPE AND COOKED IT OVER AND OVER and as he HAND-FED ME SOME OF THE FOOD he said "I don't think I could live without your tasty cooking."
(bilang aja laper)


Setelah diliat kok aku sering dapet Sungyeol ya...mmm

Good nite!

Kamis, 14 Maret 2013

A picture

nothing to say. A picture means a thousand words, right?


here



/chuckle/

Hoya I'm sorry. I'm going to replace you with this-strong-gazed-like-hell-guy for a moment. Namu? No, I won't replace him as my #1 bias on Infinite even you have to tear your shirt off again

Happy weekend!

We're not mafia, fangirls

Barusan online twitter, nganggur sambil nunggu teaser infinite terbaru. Aku penasaran sama trending-an #StopHackingDonghae861015 yang posisinya no.1 di Indonesia. Oke, dari hashtag-nya udah ketauan kalo twitternya donghae dihack. Aku nggak follow dia jadi aku sama sekali nggak tau. Aku coba klik trendingan itu dan baca tweet-tweet yang didominasi oleh 1 fandom ini.

Oh, aku baru tau kalo ada yang bilang hacker-nya adalah orang Indonesia. Aku liat fotonya, cowok, dan kayanya masih bocah juga. Hampir semua tweet yang aku liat menyerang dan mention si cowok ini. Aku nggak tau kronologisnya. Ada yang bilang itu cowok ngaku sendiri (kok aneh ya hacker ngaku gitu) tapi ada yang bilang dia ingin tenar aja ngaku-ngaku gitu, cari perhatian. Ya nggak tau deh yang bener yang mana. Tapi bukan itu yang ingin aku tulis sekarang.

Pertama, aku penasaran sama para fangirls khususnya yang ada di Indonesia. Misal nih, donghae atau siapa pun korean idol itu twitternya baik-baik aja, nggak ada kasus hack, apa kalian masih peduli sama urusan cyber crime? Terus seperti kasus ini, kan yang ngaku-ngaku itu orang Indonesia, otomatis fangirl dari Indonesia yang lebih banyak berkomentar. Ada yang men-judge, marah-marahin, dll. Yaa kalo aku di posisi kalian trus twitter idolaku juga di-hack dan orang Indonesia ngaku-ngaku juga, aku pasti kesel. Tapi nggak mungkin sampai aku mention orangnya dan hina-hina dia. Kenapa? Karena sampai sekarang aku belum ngerti gimana hukuman dan mengadili hacker yang korbannya di luar negeri. Cyber law di tiap negara ada yang sama ada yang beda, dan kebijakannya gimana aku belum paham. Selama ini dari kuliah yang aku dapat, cyber law khususnya di Indonesia masih kurang diperhatikan, dan hukuman yang dilakukan adalah perpaduan antara hukum pidana dan perdata yang biasa diberlakukan di media elektronik atau cetak. Internet jauh lebih kompleks dan hukum konkretnya sampai sekarang masih susah.

Kedua, dan ini yang buat aku menulis post ini. Aku liat salah satu tweet dari seorang fangirl dari fandom yang grup favoritnya ada si donghae ini. Aku baca kok kata-kata ini fangirl kasar banget. Hmm kasarnya bisa dibilang kasar untuk ukuran cewek. Kalo aku cowok mungkin juga agak gimana gitu liat tweet si fangirl ini. Oke, let me get this straight. Akun twitter memang punya kamu, di sana ada banyak follower yang akan lihat dan menilai kamu berdasarkan apa yang kamu tweet. Aku pribadi sadar kalo aku berisik banget di twitter, tapi juga berusaha untuk menulis hal-hal yang tidak menghina atau kasar. Tweet adalah menulis, bukan berbicara. Memang kesannya lebih mudah menulis, apalagi orang-orang yang jadi follower kamu nggak bisa liat mukamu langsung. Coba bayangin kamu di twitter ada fitur semacam webcam di mana orang lain bisa liat wajahmu ketika kamu nge-tweet. Aku yakin sebagian dari kita ragu utuk nge-tweet yang aneh-aneh.

Kembali ke topik, aku liat fangirl ini bilang kurang lebih "makanya jangan main-main sama ***" dengan menyebutkan fandomnya. Oke aku ngerti maksudmu. Jumlah fangirl kalian di fandom itu memang banyak banget. Pemikiran implisitnya adalah "jangan macem-macem kalo mau selamat". Fandom itu kelompok besar, dan sebuah kelompok bisa melakukan apa saja, APA SAJA, karena mereka bekerja sama. Dan kesan yang aku tangkap dari tweet tersebut adalah "huh? kok kalian kaya mafia gini?"

Apa bedanya dengan mafia di film-film yang sangat menjaga solidaritas dan bilang ke lawan "jangan main-main sama kita" ? Begini, fandom apapun itu, seberapa besar pun fandom itu, coba deh jangan punya jiwa nantangin kaya gitu. Mikirnya simpel aja. Tweetmu bilang "jangan main-main sama ***" dan coba misal kamu nge-tweet "jangan main-main sama gue". Efeknya beda. Dan aku yakin tingkat keberanianmu ketika menulis tweet itu juga beda. Kamu lebih memilih menyebutkan kelompokmu.

Pesanku malam ini untuk semua fangirl dan fandom sih itu. Jangan punya jiwa nantangin. Itu keliatan banget kontrasnya kalo selama ini kalian terus berteriak "fandom kita cinta damai" dll.

PS: Dongwoo, aku suka teasermu <3

Rabu, 13 Maret 2013

Good Morning!

Sarapan pagi ini...





taken from 100% funny on Facebook

current song: Good Morning by Verbal Jint and Kwon Jeong Yeol of 10cm on repeat

be special

aku tau ada sekumpulan orang yang melihat atau menganggapku aneh

biar,

karena dengan itu aku sadar bahwa aku berbeda dan mereka adalah orang-orang yang membosankan

Katanya.... [part 2]

Entah kenapa tiap ingat mata kuliah yang satu itu aku jadi bete sendiri. Jurnalisme Penyiaran.

Bisa nggak kalo jurnalisme-nya dicoret?

Dosen mewajibkan kami magang untuk mata kuliah ini, boleh di televisi atau radio mana aja se-Indonesia dalam kurun waktu maksimal 2,5 bulan. Tapi karena kami juga statusnya masih jadi mahasiswa aktif, mau nggak mau ya di Jogja dan sekitarnya. Awalnya kami senang karena kami pasti mendapat pengalaman baru dengan terjun langsung ke media penyiaran. Aku awalnya excited dan sudah membayangkan apa-apa yang akan aku lakukan sewaktu magang nanti.

"Karena ini mata kuliah jurnalisme penyiaran, jadi kalian magang di media yang ada program jurnalistiknya," kata dosen. Kami semua bingung.

Jadi, nggak boleh magang di radio atau televisi hiburan? Maksudku, kami 'nggak diperkenankan' mendapat pengalaman bekerja di media penyiaran, sebagai A B C D E yang nantinya akan bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin bekerja di media penyiaran, begitu? Apa kami yang kuliah di konsentrasi ini, atau aku, 'dipaksa' untuk lulus sebagai wartawan? Kenapa konsentrasi itu terlalu berkiblat pada jurnalisme? Padahal jelas yang diajarkan kepada kami selama hampir 2 tahun ini berbeda dengan faktanya di luar sana. Aku merasa kami diajarkan untuk idealis, kami diberi pemahaman tentang bagaimana menjadi jurnalis yang netral, bagaimana seharusnya menulis berita yang baik, bagaimana seharusnya pemimpin media tidak mencampuri pemberitaan, dan segala macam jurnalisme ideal lainnya.

Program jurnalistik?

Aku nggak habis pikir. Man, komunikasi itu bidang yang sangat luas. Lulusan komunikasi itu bisa jadi apa aja. Dan di luar sana ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan, fakultas bahkan universitas yang punya minat jurnalistik yang tinggi juga ingin menjadi wartawan. Banyak dari mereka yang tulisannya bagus. Perbedaan kami dan mereka seolah hanya terletak pada teori-teori dan konsep komunikasi yang kami pelajari. Tapi kenapa kami terlalu diarahkan untuk fokus pada bidang tertentu dan kurang mengembangkan bidang lainnya? Mungkin teman-teman yang memilih konsentrasi PR dan periklanan juga merasa bahwa kedua bidang tersebut tidak imbang dalam pembelajarannya. 

Mungkin akan sangat menyenangkan kuliah di jurusan ini jika sejak semester 3 tidak diadakan mata kuliah wajib. Yang minat jurnalisme, silakan ambil mata kuliah yang ada hubungannya dengan bidang tersebut, begitu juga yang lain. Hingga kami tidak merasa terpaksa melakukan, menjalani pembelajaran tertentu dan ujung-ujungnya kami nggak mengerti.

Coba sekarang kalo ada yang tanya aku "setelah lulus kamu mau jadi apa?" dan aku akan menjawab "aku mau jadi A B C D.."
Dan ketika mereka tanya "kalo nggak kerja jadi itu, jadi apa?" dan aku akan menjawab "Yaa, paling ujung-ujungnya jadi wartawan."

See?

Semua orang punya impian dan prioritas masing-masing. Aku menomorsatukan kerja di media penyiaran dan menomorduakan gabung di event organizer konser dan menomorsekiankan wartawan. Aku nggak sebenci ini dengan profesi tersebut, tapi aku jenuh dipaksa untuk menjadi sesuatu yang bukan kehendak ku.

udah ah capek

Katanya.... [part 1]

Sekedar ingin mengeluarkan uneg-uneg nggak penting yang aku tangkap hari ini.

Hampir tiga tahun aku kuliah di jurusan ilmu komunikasi, jurusan di mana aku bisa belajar tentang media, jurnalisme, public relation dan periklanan. Aku mengambil konsentrasi media dan jurnalisme. Nggak, itu bukan dua konsentrasi tapi satu. Iya, media dan jurnalisme digabung. Sialnya begitu.

Dari awal masuk komunikasi sempat tertarik sedikit dengan jurnalisme, tapi setelah tahu bagaimana kerjanya dll, sampai hari ini aku nggak tertarik. Aku tertarik dengan media, yang cakupannya juga luas; media seperti radio, internet, televisi, konten media seperti film, musik, novel, dan industri media itu sendiri. 

Pagi ini temanku datang ke kos untuk numpang nge-print majalah yang dia dan teman-temannya buat. Namanya Ayu, dia dikenal sebagai mahasiswi yang mengerti dunia jurnalisme secara nyata di kelas karena dia sudah aktif menjadi wartawan di salah satu koran lokal di Jogja. Dibanding kami yang hanya belajar teori di kelas, dia sudah tahu bagaimana kenyataannya di lapangan.

Kami cerita tentang banyak hal tadi, mulai dari harga kamar kost di Jogja sampai masalah jurnalisme.

"Satu majalah ini sebenernya aku semua yang buat." kata Ayu sambil menunggu hasil print majalah setebal 36 halaman itu selesai.

".... Maksud? kamu semua yang reportase?" Aku nggak yakin.

"Nggak, jadi ada juga yang cari di internet. Jadi ghost writer itu kadang lebih enak, Meg. Aku jadi ghost writer di koran nasional beberapa kali, sekali nulis bisa dapet 1 juta."

Aku nggak ngerti ghost writer itu apa. Aku tahu itu istilah dalam dunia jurnalisme, tapi artinya aku nggak tahu.

"Aku nggak ngerti. Ghost writer itu emang kerjanya gimana, Yu?"

"Jadi kan ada orang-orang yang terkenal seperti guru besar, dokter dll dan tulisannya bagus. Tapi mereka sibuk dan nggak punya waktu untuk nulis. Akhirnya mereka minta jasa ghost writer untuk nulis tentang satu topik. Topik atau inti tulisan itu merekayang nentuin, terus ghost writer tinggal nulis sama kembangin aja. Tapi nanti pas di media, tulisan itu atas nama mereka, bukan atas nama ghost writer."

Ooooo....

"Jangan gampang percaya, Meg, sama opini-opini yang ada di suratkabar. Opini yang ditulis sama guru besar atau orang penting lainnya itu sebenernya ditulis sama ghost writer, makanya tulisan sama tata bahasanya bagus."

Ilmuku tentang jurnalisme nambah satu.

Beberapa menit atau jam sebelum Ayu cerita tentang ghost writer, kami ngobrol tentang minat jurnalisme. Aku bilang kalo aku nggak minat di bidang yang satu itu. Aku nggak mau jadi wartawan.

"Emang kamu nanti maunya jadi apa sih, Meg?"

"Mm... impian terbesar sih kerja di media di Korea, antara KBS atau SBS."

"Lah, nanti jadi wartawan juga kan di sana?" Mungkin Ayu kurang ngeh kalo SBS KBS itu media penyiaran.

"Nggak, aku mau jadi orang yang kerjanya di belakang panggung."

"Ooh. Jangan jadi wartawan, Meg. Nggak enak. Jadi wartawan itu sibuk banget. Atau kalo kamu jadi wartawan di media mingguan aja, kaya majalah."

"Iya sih, kalo di majalah itu aku masih mau kayanya."

Ilmu jurnalisme ku nambah satu lagi.

Postingan ini hanya sekedar cerita. Untuk uneg-unegnya nanti di postingan berikutnya, masih nyambung sama post ini.

Selasa, 12 Maret 2013

dear my dream stealer

halo si pencuri mimpi, tweet-tweetmu kok terlalu implisit ya. tadinya aku follow kamu biar motivasi diri sendiri walau kesel juga karena kamu dapetin apa yang aku mau. dapetin banget malah. tapi karena tweetmu terlalu mengandung unsur pamer jadinya aku unfollow. iya aku tau kamu jurnalis, aku tau kamu bisa ini itu, udah ketemu si A B C D, tweetmu emang sering live report, tapi kesan "aku"nya dapet banget. aku-viewpoint banget.

Iya awalnya aku iri karena kamu sudah mengambil apa yang aku cita-citakan selama ini, ternyata apa yang aku cita-citakan sudah ada dalam bentuk aslinya, sudah terjadi di kehidupan orang lain, yaitu kamu. Tapi karena sikapmu begitu, aku nggak jadi iri. kamu bukan role modelku. dan aku nggak mau mengakui bahwa mimpiku telah diambil karena aku nggak pernah bermimpi untuk menjadi orang sepertimu. aku hanya bermimpi untuk mendapatkan profesimu. bedakan itu

untung kamu nggak kenal aku

Witch hunt? Asian journalism?

Barusan baca-baca artikel di sini dan nggak sengaja lihat artikel tentang witch hunt dan Korean media cycle. Witch hunt, aku baru pertama dengar istilah ini. Setelah cari artinya, ternyata semacam pembentukan pemikiran masyarakat terhadap suatu isu yang sulit dijelaskan atau dicari kebenarannya. Mm... mungkin ini bisa menjadi contoh sederhana. Beberapa waktu lalu di Indonesia pemberitaan mengenai terorisme sangat marak. Nggak bisa dipungkiri bahwa lama-lama sebagian masyarakat Indonesia maupun dunia memandang Islam sebagai teroris. Di lingkungan kampus sendiri kalo lihat mahasiswa yang aktif di forum-forum keagamaan (Islam) atau di sekolah yang aktif di Rohis pasti ada aja yang ngejek, bercanda atau nggak, kalo mereka adalah calon teroris. Apalagi yang kegiatannya aktif bahkan radikal. Padahal kita tahu bahwa Islam bukan teroris. Mungkin seperti itu gambarannya tentang witch hunt. Pemberian tuduhan yang salah kepada seseorang atau kelompok tertentu berdasarkan pada ketakutan umum yang ada di masyarakat. Kalo masih nggak ngerti, tanya Google.

Sedangkan cycle, di sini aku menganggapnya sebagai putaran atau arus pemberitaan. Selama ini yang aku pelajari di kampus tentang media di Indonesia hanya berkisar dari jurnalis mencari berita, dibawa ke news room untuk dipilih, mendapat pengaruh dari ideologi media itu sendiri, baru dipublikasikan. Aku melihat masyarakat kurang memberi pengaruh terhadap pemberitaan apalagi jika berita tersebut masih baru. Justru masyarakat di Indonesia lebih sering kaget saat sebuah artikel yang mencengangkan dikeluarkan.

Kalau di Korea ini mungkin ada kesamaan, tapi hal yang baru aku temukan ini lebih kepada jurnalis dan netizen (bagian dari masyarakat) yang membentuk sebuah berita. Begini polanya:

Controversy sparks among netizens -> Journalists release articles as if they caught exclusive content -> hateful replies ensue -> Journalists write more articles calling it a witch hunt -> more hate ensues -> something goes wrong with the celebrity -> Journalists release more articles blaming netizens... The average cycle of the Korean media

Dengan kata lain saat muncul kontroversi yang belum jelas sumbernya, jurnalis langsung membuat berita. Masyarakat menanggapi berita tersebut dan sebagian membantah, mencela atau memberikan feedback yang buruk. Kemudian jurnalis kembali menulis berita dan menyebutkan sebagai witch hunt. Feedback buruk terus berdatangan. Saat si tokoh yang diberitakan mengalami sesuatu hal yang tidak diinginkan atau hal negatif lainnya, jurnalis akan menyalahkan netizen.

Kalian bisa baca lebih tentang ini di sini

Jangan lupa untuk baca komentar-komentarnya karena itu cukup menarik, melihat pemikiran tiap orang mengenai isu ini. Yang menjadi pertanyaanku adalah apakah jurnalisme di Asia rata-rata punya pola yang sama? Aku belum belajar mengenai jurnalisme di berbagai negara Asia karena selama ini yang menjadi acuan pembelajaran di kampus adalah jurnalisme di indonesia dan Amerika. Aku agak kepancing sama salah satu komentar di link tersebut bahwa tidak hanya di Korea tapi rata-rata jurnalisme di Asia seperti itu. Jadi penasaran.

Oke sampai di sini dulu, aku mau ikutan trending-an ultahnya Myungsoo, hehe.
Bye

Senin, 11 Maret 2013

dream (n) : something I believe

When I realized there's someone out there had had my biggest dream, I felt down.
I admitted I'm jealous 

 1st second....
Damn, how can she get my-well-okay-it's-perfect-dream and look... here I am sitting, ignoring my assignment and reading her story that makes me speechless. it's so... damn. She stole my dream!!



2nd second....




5th...

Ugh!



30th...

It's so unfair..





1 minute later..


..... I lent her my dream. Maybe it wasn't hers, the goal of her life too
I can surpass her in future because I dream and I believe.


No, I will get more....moooooore than what she got now, what I called "dream".


just see

Minggu, 10 Maret 2013

current song: ICE by Phantom

masih mencari lebih banyak lagi grup musik baik dari dalam maupun luar negeri yang genrenya seperti grup:

Indonesia
maliq & d'essential, bunglon, ecoutez, mocca

Korea
clazziquai project, hourmelts, urban zakapa, 10cm, verbal jint, leessang, MFBTYphantom

Jepang
perfume, meguro shoji

Western
Jamiroquai, avicii, daft punk, LMFAO, Ne Yo

yang warna ungu itu alirannya campuran antara elektronik sedikit, acid jazz, jazz, bossa nova, sama agak pop. Aku sendiri bingung bedanya jazz sama acid jazz itu gimana. Oya sebenernya grup Casker dari Korea juga bagus tapi nggak gitu suka sama suara vokal perempuan yang terlalu soft. Meguro shoji aku suka waktu dia ngiri soundtrack Persona

yang warna merah itu hip hop dan rap. Aku nggak gitu yakin sih genrenya MFBTY itu apa tapi mengarah ke hip hop juga, Kalo phantom agak pop juga

yang warna biru itu alirannya elektronik, disco, agak dance juga

yang oranye RnB. tapi belum terlalu nyari sih karena tergantung siapa penyanyinya. Selama ini baru suka Ne Yo



Jadi kalo ada yang mau kasih rekomendasi grup musik yang alirannya mirip seperti grup-grup di atas, aku berterima kasih banget loh :')


Continuity #1: 60 Seconds by Kim Sunggyu

Siang :D

Mulai sekarang mau coba menulis tentang continuity, atau bisa dibilang kontinuitas dari sebuah scene baik dalam music video, iklan, film dan produk audio visual lainnya. Hal ini penting dalam sinematografi atau saat shooting film agar penonton nggak bingung dan adanya kelanjutan dari satu shot ke shot lain. Ya itu tadi, kontinuitas. Sebenernya udah lama hobi mengamati detil dari tiap scene video yang ada dan udah berhasil menemukan beberapa tapi karena nggak ditulis jadi lupa film dan music video apa aja yang ada 'cacat'nya.

Kebetulan siang ini lagi nonton music video Kim Sunggyu yang judunya 60 Seconds. Baru selesai download dan langsung diputar. Ini videonya



Nonton di scene awal langsung menemukan kesalahan


Sekitar menit 00:10-00:12 ada adegan Myungsoo mau lipat payung. Bisa diliat ya di atas kalo payungnya itu kering, sama sekali nggak ada tetesan air di ujung-ujungnya


Beberapa detik kemudian ceritanya Myungsoo sudah berhasil melipat payungnya. Tapi kok ada air? Air datang dari mana? Shot pertama di video memang tetesan air hujan. Kalau Myungsoo ceritanya pakai payung saat hari hujan dan ternyata cuaca kembali cerah sehingga dia harus melipat payungnya, kenapa pas mau dilipat tadi (gambar 1) sama sekali nggak ada air? Waaah




Mmm...udah sih itu aja sebenernya .__.
Cerita di music video-nya emang agak bikin bingung, tapi berkat baca review dari sini jadi tau ceritanya. Kurang lebih begitu


Sabtu, 09 Maret 2013

T_______T


malam ini bete-nya lagi numpuk. nggak, nggak ada hubungannya sama mubank

pertama, lagi nggak bisa mikir buat garap tugas.tugasnya disuruh buat kartu ucapan ulang tahun ke rekan kerja sama surat ucapan hari jadi ke perusahaan rekanan. dua-duanya belum digarap, padahal deadline senin pagi.
kedua, ngantuk. ini ayah lagi di kos, lagi ada perlu di jogja jadi numpang tidur di kos selama dua hari. besok pagi harus udah balik ke jakarta. malam ini rencananya diajakin makan, tapi karena nggak ada kendaraan jadi nggak jadi makan. sebenernya sih nggak apa-apa. tapi gue suntuk di kosan doang
ketiga, gue ngantuk tapi nggak mau tidur
keempat, dari tadi cuma bisa liatin timeline di depan laptop. nggak bisa fangirling, buka tumblr dll karena ada ortu
kelima, dan yang crucial, gue ngerasa udah bosen sama yang namanya kuliah. apa yang gue dapet di kampus berbeda dengan kenyataan di luar sana. kalo gitu, kenapa dari awal nggak diajarin sekalian yang persis dengan kenyataan di luar? untuk apa lama-lama ber-idealis tinggi kalo nyatanya pas di luar nanti kita juga yang ditundukkan oleh 'mereka'

udah

gue bosen kuliah

Jumat, 08 Maret 2013

Money Oriented?

Hai

One of my favorite korean group will perform on Music Bank in Jakarta tonight. Aku nggak dateng karena dari awal kurang tertarik sama artis-artisnya dan lagi nggak ada uang juga. Sekarang lagi menabung untuk Invasion-nya Infinite, padahal belum tahu kapan mereka mau tour dan datang ke Indonesia. Selain itu aku juga nggak suka nonton konser yang banyak artisnya. Sebagian orang suka karena itu 'nonton hemat' sekali bayar bisa menikmati performa banyak artis, tapi bagiku dan beberapa orang konser seperti itu jadi nggak total, nggak bisa fokus sama grup yang disuka.

Oke, sekarang aku nulis bukan untuk bahas Mubank. Tadi pagi promotor Mubank yaitu BigDaddy nge-tweet tentang kehadiran Infinite di salah satu program televisi nasional besok Minggu. Setahuku Infinite memang akan balik ke Korea pada Minggu malam. Sempat bingung juga, "Ngapain mereka pas hari Minggu? Kenapa nggak langsung pulang aja?" Dan pertanyaan itu terjawab tadi pagi. Iya, promotornya sendiri yang bilang kalau mereka akan tampil (entah cuma interview atau nyanyi juga) di salah satu stasiun televisi nasional. 

Kita semua tahu kalau di Indonesia ada sebuah program musik yaitu Dahsyat di stasiun televisi RCTI yang sudah langganan memanggil artis luar negeri yang datang ke Indonesia sebagai bintang tamu mereka. Semua sudah tahu itu. Dan selama ini tanggapan dari teman-teman yang artis favoritnya dijadikan bintang tamu di program itu cenderung negatif. Kenapa? Beragam alasannya. Aku pribadi jarang menonton televisi, tapi jika ditanya mengapa teman-teman bereaksi negatif, aku bisa jawab. Toh kadang aku juga menonton acara itu juga. Dari banyak opini yang telah aku dengar, mereka mengeluhkan MC-nya. Aku nggak usah sebut nama, teman-teman pasti sudah tahu siapa orangnya dan bagaimana karakternya ketika membawakan acara.

Awalnya aku berusaha nggak percaya kalau Infinite akan datang ke Dashyat walau feeling itu selalu ada. Kata teman, mungkin aja tampil di TransTV karena mereka adalah media partner dari Mubank. Oke, aku cukup lega. Aku lega bukan karena tampil di stasiun mana, tapi tampil di acara apa sehingga aku bisa memerkirakan apa yang akan dilakukan oleh Infinite dan program itu sendiri. Tadi aku sempat keluar beli oleh-oleh untuk dibawa ayahku pulang ke Jakarta. Di jalan sempat online Twitter juga dan mendapat kabar bahwa Infinite beneran datang ke Dahsyat besok.




Okay. I barely have respond. I just..... damn. I hate it



Pemikiran pertama yang muncul di kepalaku

"MNC do know how to increase their own program rating"

Aku nggak ngerti. Kok bisa, media partner-nya bukan mereka tapi artis yang bukan mereka dukung malah tampil di stasiun televisi mereka? Setelah dipikir-pikir media partner konser sama kontrak artis mau kemana besoknya itu nggak ada hubungannya. Mungkin Trans hanya me-support konsernya dan RCTI lebih dulu membuat kontrak dengan Infinite untuk datang sebagai bintang tamu di Dahsyat. Maka dari itu mereka baru akan pulang dari Jakarta Minggu malam.

Sip. Masalah media selesai.

Sekarang, yang masih buat teman-teman shock dan merengek-rengek di timeline adalah program acaranya. "Kenapa harus Dashyat?" "Gue ga rela!" "Nanti kalo Myungsoo diapa-apain sama MC-nya gimana?" dan banyak komentar negatif lainnya. Tapi lihat kan, bisa diambil simpulan bahwa banyak orang yang kurang menyukai program ini karena MC-nya.

Aku nggak mau menjelaskan kelakuan MC-nya gimana karena aku jarang nonton dan males juga jelasinnya -____-

Tapi sempat terpikir nggak, kok MC-nya nggak diganti sih, atau gimana gitu?

Balik ke judul. Yes. Money oriented. Bukannya masyarakat Indonesia sukanya tontonan yang buat ketawa? Ya apa aja, mau ejek-ejekan, mau marah-marahan, marah beneran, ngapain aja pokoknya bisa buat ketawa itu pasti disuka. Pasti yang nonton banyak. Pas ditanya acara itu tentang apa dan apa esensinya, malah bingung. Heran...
Dan orang-orang yang bisa buat ketawa itulah yang dipertahankan media. Tahu kan bahwa si MC pernah ditegur beberapa kali oleh KPI? Tapi kenapa kok masih aja nongol di televisi? Karena mereka-lah mesin uang media. Segala perbuatan negatif yang dilakukan orang dalam acara itu, baik MC, musisi, cameraman dll  adalah tanggung jawab media atau acara tersebut karena orang-orang itu dipakai dan dibayar untuk program mereka. 

Aku jadi ingat kelas Program Siaran TV di kampus "produk televisi diciptakan atas dua hal, money oriented atau quality oriented. Dan produk yang diciptakan atas keduanya itu jarang dan susah diwujudkan."

Sebenarnya Dahsyat itu oke-oke aja kalau menurutku. Aku pribadi nggak menuntut program musik di Indonesia sebaik di Korea yang model panggung tiap artis berbeda sehingga ada yang harus dilakukan live, ada yang delayed live (acara direkam beberapa jam sebelum disiarkan sehingga masih ada kesempatan untuk editing/sensor), harus nggak lipsync dll. Hanya satu, aku ingin image program musik Indonesia itu membaik. Oke lah kalau dari segi visual (tata panggung) dan musik (lipsync/nggak) disampingkan sejenak dan fokus pada attitude dari pembawa acaranya. Secara nggak sadar pembawa acara itu wajah program/ Orang biasanya menonton suatu program televisi yang dilihat pertama kali adalah pembawa acaranya. Yah kalian tahu omonganku ini akan mengarah ke mana (mulai capek ngetik)

Dahyat itu oke aja kalau pembawa acaranya berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat. Sebaiknya sebuah program terkenal karena konsepnya, bukan attitude yang dimiliki pembawa acara.

dadah~

Senin, 04 Maret 2013

[Review] Dunia Sophie: Bahagia Itu Sederhana



Judul: Dunia Sophie
Pengarang: Jostein Gaarder
Jenis buku: Novel fiksi
Penerbit: PT. Mizan Pustaka
Bahasa: Indonesia
Tahun terbit: 1996 (cetakan pertama)
Jumlah halaman: 561 halaman

Filsafat sering dianggap sebagai sebuah ilmu yang sulit dipahami oleh orang lain. Membutuhkan pemikiran yang mendalam dan waktu yang tidak singkat untuk mempelajari filsafat menjadi alasan utama orang enggan mempelajarinya. Namun penulis asal Norwegia, Joestin Gaarder, berhasil mengemas sejarah dan pemikiran seputar filsafat dalam karya fiksi yang mudah dimengerti bahkan bagi orang yang tidak menyukai filsafat. Tidak heran bila novel berjudul asli Sofie’s Verden ini sangat diminati banyak orang hingga menjadi megabestseller novel di kancah internasional dan telah diterjemahkan ke dalam tiga puluh lima bahasa.
Dunia Sophie menceritakan tentang Sophie Amundsend, gadis Norwegia berusia 14 tahun yang menerima surat dari orang tidak dikenal saat dirinya melihat tumpukan surat di kotak pos rumahnya. Surat tanpa nama pengirim yang ditujukan pada dirinya berisi pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti “Siapa kamu?”, “Dari mana datangnya dunia?” dan sebagainya. Setiap hari Sophie menerima surat misterius yang berisi pelajaran-pelajaran seputar filsafat. Tidak lama kemudian Sophie akhirnya bertatap muka langsung dengan Alberto Knox, pria berusia 50 tahun yang selalu mengirimkan Sophie surat.
Alberto dan Sophie dibingungkan dengan Albert Knag dan Hilde Moller Knag, dua sosok yang tidak pernah mereka temui. Sophie dan Alberto tahu bahwa Hilde adalah anak dari Albert, dan selalu mendapatkan kartu pos dari Albert untuk Hilde yang dialamatkan ke rumah Sophie. Alberto dan Sophie semakin resah ketika mereka merasa keberadaan Albert, yang dalam kartu pos menunjukkan bahwa dirinya tinggal di Lebanon, sangat dekat dengan mereka seolah-olah dia tahu mengenai apapun. Albert seolah-olah seperti Tuhan. Namun pada akhir cerita terungkap bahwa Sophie dan Alberto adalah sosok buatan Hilde dan Albert, bukan sosok utama dalam novel filsafat ini.
Ada beberapa hal menarik dalam novel ini. Pertama, Dunia Sophie dipenuhi analogi-analogi yang sederhana dan mudah untuk dibayangkan namun sesuai dengan pemikiran filsafat yang diberikan. Jika dibandingkan dengan isi novel, penulis seolah menjadi Alberto yang akan membagikan pengetahuannya kepada Sophie, yang tidak lain adalah pembaca. Pembaca layaknya Sophie, diposisikan sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa mengenai filsafat. Penyampaian materi yang sulit dipahami tidaklah mudah dan Gaarder layaknya guru TK membimbing perlahan jalan pikiran pembaca (yang posisinya seperti siswa) dengan dialog dua arah.
Kedua, Gaarder tidak hanya memenuhi karyanya dengan pemikiran ala Plato hingga Freud tapi juga menyisipkan misteri dan kehidupan sehari-hari layaknya novel remaja. Pencarian sosok Albert dan Hilde merupakan salah satu contoh misteri yang terkandung dalam cerita ini. Pembaca diajak untuk memiliki rasa penasaran, ikut berpikir bersama Sophie dan Alberto. Selain itu, Gaarder juga menampilkan aktivitas sehari-hari Sophie sebagai remaja. Percakapan dengan sahabatnya, pertengkaran kecil dengan ibunya yang mencurigai Sophie sedang jatuh cinta membuat novel ini tidak hanya untuk dibaca orang dewasa. Bahkan dengan adegan-adegan tersebut, novel ini terkesan “semua umur”.
Karya yang memiliki banyak keunggulan juga tidak bisa lepas dari kekurangan. Jika dibaca secara keseluruhan, cara Alberto menjelaskan berbagai konsep dan sejarah filsafat kepada Sophie terkesan monoton, dalam arti terdiri dalam kalimat langsung yang panjang dan bahasanya yang lebih mirip dengan bacaan dalam buku sejarah. Novel ini memang berbeda dengan novel kebanyakan yang bisa dibaca dengan cepat. Pembaca tidak bisa melewati kejadian dan pemikiran yang butuh pemahaman lebih dalam. Bagaimanapun juga, Dunia Sophie bukan “novel ringan” yang dapat dibaca sambil lalu.
Filsafat bukan sekedar menghapal para filsuf dan karyanya, bukan juga sekedar mengetahui sejarah perkembangannya. Tujuan utama para filsuf dan orang-orang yang menekuni filsafat adalah agar merasa bahagia sebagai manusia dan memahami makna hidup sebenarnya. Tidak sedikit orang yang masa bodoh dengan apa yang telah terjadi di sekitar dan menerima apa adanya seolah semua terjadi dari sananya. Namun mempelajari filsafat berarti mencari tahu makna di balik apa-apa yang terlihat biasa, menyelami arti dari sebuah peristiwa, menemukan jati diri sehingga menjadi manusia yang bahagia dengan apa yang dimilikinya.
Novel filsafat memang belum banyak jumlahnya. Namun Dunia Sophie bisa menjadi alternatif pilihan untuk memahami dunia filsafat dari dasar. Novel ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan wajib untuk pelajar agar lebih mudah memahami sejarah dan terbiasa berpikir kritis dalam menyikapi fenomena yang terjadi di sekitarnya. Novel ini recommended untuk orang yang menyukai cerita fiksi yang berbobot dan mengutamakan esensi dari sebuah karya sastra.