2 April 2013
Untuk pertama kalinya dalam hidup aku dikabarkan sekarat dan akan pergi dari dunia ini selamanya.
April mop?
Harusnya April mop itu tanggal 1, tapi ini terjadi di keluargaku tanggal 2. Hari ini. Tadi pagi lebih tepatnya.
Seseorang menelpon rumahku. Asisten rumah tangga yang mengangkat telepon tersebut dan ibuku berbicara dengan orang di seberang sana.
"Ini orangtua dari Mega Dini? Anak Ibu kuliah di UGM kan? Mega habis kecelakaan, jatuh dari tangga kampus. Otak kecilnya bermasalah. Sekarang sudah di RS Sarjito dan membutuhkan biaya pengobatan. Mega tidak bisa dioperasi karena kemungkinan besar akan gagal. Mega harus segera diterapi, dan membutuhkan biaya 25 juta. Ibu tolong transfer uang tsb ke rekening ini (lalu menyebutkan nomor rekening) dalam waktu 15 menit ini. Segera ya Bu, karena kalo lewat dari itu nanti udah lewat (udah keburu meninggal maksudnya)."
Yang menelpon ini laki-laki, mengaku sebagai dokter yang menanganiku.
Kurang lebih isi pesan di telepon seperti itu. Aku diceritain sama ibuku yang setengah syok setengah lega setelah dengar suaraku yang baik-baik aja (sambil ketawa malah). Ibuku sangat polos. Sejak TK sampai sekarang aku selalu diingatkan untuk selalu hati-hati di manapun, jangan mudah percaya sama orang tak dikenal, jangan terima makanan minuman sembarangan, dll. Tapi ibuku kayanya juga nggak update sama modus-modus penipuan. Yaaah....
Dalam keadaan panik ibuku telpon ayahku yang udah di kantor. Untungnya ayahku lebih paham urusan penipuan, jadi sambil menenangkan ibuku, dia telpon aku. Aku yang baru selesai mandi sedang siap-siap ke kampus terima telpon dari ayah. Aku semangat angkatnya karena kupikir dia telpon untuk ngabarin uang bulanan udah dikirim. ternyata...
"Mega, kamu di mana sekarang?"
"Di kos, mau kuliah. Ini lagi pake baju baru selesai mandi."
"...kamu, nggak apa-apa kan?"
Aku bingung. Tumben amat tanya begitu.
"Nggak apa-apa. Kenapa?"
Lalu aku diceritain deh panjang lebar sama ayahku. Nggak lama setelah itu ibuku telpon. Dari suaranya aku tau dia ketakutan campur cemas campur lega aku nggak apa-apa. Aku bilang sama dia kalo modus penipuan kaya gitu udah lama di Jogja. Sejak semester 1 udah banyak temanku yang kena modus seperti itu. Yah nasib ya jadi anak rantau, jauh dari orangtua, eh orangtua malah jadi sasaran empuk penipu.
Ibuku SMS ke aku, dia bilang 2 menit setelah telpon tadi terima telpon lagi "Bu, uangnya udah dikirim belum? Ini kondisi Mega semakin drop" sambil menangis.
Yang jadi pertanyaanku, kenapa si penipu tau namaku, kuliahku di mana dan bahkan nomor rumahku. Aku mungkin sering ngasih nomorku ke orang lain, tapi itu nomor ponsel pribadiku. Aku nggak pernah ngasih nomor rumah. Bahkan di CV atau berkas-berkas yang aku kirim ke banyak tempat pun hanya mencantumkan nomor ponsel, bukan nomor rumah. Sempat berpikir penipu ini kenal atau tau aku secara personal, atau dia liat data anak-anak UGM dan kebetulan disitu ada nomor rumahku.
Anggap aja dia fan-ku. Sasaeng fan-ku, hehehe.
Dear penipu, terserah kamu mau bilang kondisiku seperti apa. Mungkin otak kecilku bermasalah, tapi mungkin otakmu lebih bermasalah dibanding otak kecilku. Atau mungkin punyamu lebih kecil?
Aku tau kamu sudah berusaha dengan baik untuk menipu orangtuaku, tapi lain kali berpikir lebih rasional ya. Setidaknya perhatikan detil tiap kebohongan yang kamu buat. Ya, untungnya sasaranmu ini kok belajar komunikasi jadi tau maksud dari semua perkataanmu.
Pertama, tolong transfer uang dalam waktu 15 menit. Seandainya ibuku beneran tertipu dan langsung transfer uang tanpa telp ayahku terlebih dahulu, lalu ibuku mengabarkan penipu bahwa dia sudah transfer, lalu penipu ke ATM untuk mengambil uang dan segera 'mengobati'ku, mustahil itu semua bisa dilakukan dalam waktu 15 menit. Ibuku transfer atau nggak, itu pasti melebihi 15 menit dan nyawaku udah nggak tertolong. Sama aja. Intinya, penipu ingin segera mendapatkan uang. Kalo versi kalimat langsung nan sangarnya, "Serahin gue duit 25 juta dlm 15 menit ini atau anak lo ga selamat".
Kedua, kalo nggak salah tadi kata ibuku yang telpon ini mengaku sebagai dokternya. Trus penelpon kedua sebagai guru (mungkin maksudnya dosen). Oke, Bung, tau nggak kalo dokter hidupnya nggak se-selo itu? Sangat amat jarang sekali ada dokter yang menelpon LANGSUNG orangtua pasiennya untuk mengabarkan kalo anaknya sekarat dan BAHKAN meminta orangtua tsb untuk segera transfer uang. Apalagi kalo dokter dan pasien nggak ada hubungan apa-apa, nggak saling kenal dan sebagainya.
Ketiga, seharusnya orang yang menelpon orangtua ketika melihat seseorang mengalami kecelakaan di area kampus adalah temannya sendiri atau minimal mahasiswa 1 fakultas. Mereka yang gerak cepat, segera mengambil ponsel korban dan berusaha keras mencari nomor rumah orangtuanya untuk memberi kabar bahwa anaknya kecelakaan. Itu yang dilakukan teman-temanku dulu saat aku masuk IGD karena terpeleset dan lutut kiriku geser. Dear penipu, tolong bikin storyboard atau kerangka cerita dulu ya kalo mau beraksi.
Keempat, dear penipu yang mengaku sebagai dosenku, kalo kamu liat aku, mahasiswimu, kecelakaan dan luka parah, bagaimanapun caranya kamu akan menyelamatkanku, kan? Kamu nggak harus menunggu orangtuaku untuk transfer uang dulu, kan? Atau kamu, yang mengaku sebagai dosenku, akan membiarkanku meninggal karena masalah biaya? Kalau aku jadi dosen, aku akan pakai uangku terlebih dahulu untuk menyelamatkan anak didikku, terlebih jika kondisinya seperti itu.
Ibuku mengirimkan SMS berisi nomor ponsel penipu pertama dan kedua. Aku bingung ibuku mendapatkannya dari mana. Dan entahlah nomor ini mau aku apakan. Mau ngasih April mop, tapi kok momennya udah lewat.
Btw tadi dapat berita baik dari ibu. Kakak iparku udah hamil 2 bulan, Insya Allah November melahirkan. Hore aku segera punya keponakan. Dan hore aku udah jadi tante-tante -______-"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar