Kamis, 29 Desember 2011

Simpel Tapi Ngena (Review Film: Eternal Summer)


Judul: Eternal Summer (Shèng Xià Guāng Nián)
Pemain: Joseph Chang, Bryant Chang, Kate Yeung
Sutradara: Leste Chen
Tahun Produksi: 2006

Film yaoi.

Kata-kata itu yang pertama terlintas di pikiran saya ketika tahu seperti apa cerita film ini. Jujur saya sudah lama membaca sinopsis filmnya namun susah untuk mendapatkan filmnya. Sekarang setelah berhasil mendapatkan film dan menontonnya, rugi rasanya bila tak berbagi.
Singkat cerita, Eternal Summer bercerita mengenai hubungan Jonathan dan Shane yang tumbuh menjadi persahabatan karena sebuah perintah. Jonathan sebagai sahabat-tapi-tidak-ikhlas-dan-selalu-direpotkan sudah memaklumi Shane yang bandel sejak kecil. Namun Shane sangat menghargai Jonathan dan ia tidak ingin kehilangan dirinya karena ia yangmenjadi teman pertamanya. Di tengah cerita datanglah Carrie, sosok wanita satu-satunya yang dominan di cerita ini. Cerita antara persahabatan dan percintaan mendominasi dari awal hingga akhir film.

Ada beberapa scene yang saya suka dari film ini. Pertama, ketika Jonathan kecil dipanggil ke ruang guru dan dinasehati bahwa ia dipercaya untuk menjaga Shane. Jonathan yang statusnya sebagai ketua kelas tentu harus menuruti perintah gurunya. Sejak perintah itu diberikan,  ia mau tidak mau terus menemani Shane, walau nilainya menurun akibat pengaruh buruk dari Shane. Tapi scene inilah asal mula cerita dari film ini.

Kedua, ketika Jonathan stres dan duduk di bawah pohon. Tak lama kemudian seorang lelaki berjas duduk di sebelahnya. Scene berikutnya langsung ada di sebuah kamar dan Jo ‘dibaringkan’ oleh lelaki asing tersebut. Scene berikutnya memperlihatkan Jo sudah terduduk di dalam bathub dengan keringat di seluruh tubuhnya yang telanjang. Di sini saya atau penonton bisa berasumsi yang macam-macam. Saya berasumsi bahwa lelaki asing tersebut adalah ‘pelanggan’ Jo. Namun apa pun asumsinya, melalui scene ini sutradara menegaskan prediksi penonton yang dari awal cerita mengira Jo seorang homoseksual.

Ketiga, ketika Jo dan Shane melakukan hubungan intim di kamar Jo. Jika dilihat dari scene tersebut, film ini memang diperuntukkan untuk dewasa. Scene tersebut tidak terlalu lama namun saya dapat menangkap pesan tersirat dari scene itu. Shane merasa dirinya bersalah karena sudah terlalu lama dirinya merepotkan hidup Jo. Terakhir, ketika Jo akhirnya jujur kepada Shane bahwa dia mencintainya dan Shane berkata bahwa Jo adalah teman terbaiknya.

Saya suka film ini karena walau ceritanya cukup rumit dan sedih, ada pelajaran yang bisa diambil. Pertama, film ini mengajarkan penonton mengenai sebuah keputusan yang diambil akan berdampak pada hidup ke depan. Jo dapat katakan ‘Tidak’ ketika gurunya memberi perintah. Apa pun yang telah diambil harus berani menanggung resikonya. Kedua, dalam persabahatan yang sesungguhnya tidak ada yang harus disembunyikan dan tak ada yang dirugikan. Saya berpikir persahabatan mereka yang sesungguhnya baru dimulai ketika film selesai, di mana kedua pihak mengakui apa yang mereka sembunyikan selama ini.

Apabila film seperti ini dibuat di Indonesia, mungkin akan mendapatkan banyak protes terkait dengan adegan dewasa yang ada. Saya pribadi sejujurnya tidak keberatan dengan adanya adegan dewasa selama itu diperlukan dalam cerita dan memang dengan adegan seperti itulah pesan yang akan disampaikan benar-benar sampai ke penonton. Tidak seperti film Indonesia yang banyak diproduksi sekarang, banyak adegan dewasa namun inti ceritanya saja tidak jelas.

Dibanding dengan film Arisan misalnya, yang sama-sama mengangkat isu mengenai gay, film ini berbeda. Arisan cenderung dikemas dengan kehidupan sosial ibukota dan masalah-masalah probadi yang dialami oleh tiap karakter sehingga untuk isu gay sendiri kurang dalam. Eternal Summer menghadirkan isu gay dalam kehidupan remaja yang masih labil, namun lebih dalam dan menyentuh.  Tak heran film ini menang di berbagai penghargaan dan dinobatkan sebagai film Taiwan terbaik saat itu.

Shane (Heng Shou dalam bahasa Cina) berarti matahari. Jonathan (Xing Zheng) berarti bumi. Carrie (Hui Jia) berarti komet. Dan saya jadi tahu kenapa diberi judul Eternal Summer :)


Bagi yang penasaran seperti apa filmnya, ini trailernya



Tertarik?
Silakan download filmnya di sini

Jumat, 23 Desember 2011

I cried for the unknown people

entah kenapa gue ngerasa gampang banget nangisin orang yang bahkan gue ga tau dia siapa, tinggal di mana, dll. Semacam gue perhatiin seseorang di jalan, ga tau itu siapa, trus kepikiran sampe malemnya, tiba-tiba nangis. gue sering kayak gitu, tepatnya sejak SD. padahal belom tentu orang yang gue tangisin itu juga ngeliat ke gue saat itu juga

padahal gue orangnya dingin sama orang. yang udah gue kenal pun, termasuk temen-temen gue, sering gue jutekin.

orang-orang yang gue tangisin itu seringnya adalah orang tua yang sampai pada usia setua itu masih bekerja untuk cari uang, entah untuk menghidupi dirinya sendiri atau keluarga. *ini aja gue udah nahan air mata. cengeng ya*
gue kadang berpikir mungkin itu karena anak-anaknya yang udah ga mau ngurusin ortunya lalu 'dibuang' dan dia harus cari nafkah sendiri. kadang juga mikir mungkin itu karena mereka juga yang pada masa mudanya ga usaha keras sehingga di hari tua harus seperti itu.

tapi gue buang semua pikiran negatif itu

dulu pas SD gue sering nangis sendiri malem-malem sebelum tidur. Gue keinget sama nenek-nenek yang jualan gorengan macem bakwan sama tahu isi terus dikasih bumbu kacang itu (ga tau nama makanannya apaan). dagangannya laris kok, gue juga sering beli karena emang enak dan ngenyangin. mungkin kekurangannya karena dia jualan di pinggir jalan jadi kotor kena debu dll. ya namanya juga pedagang biasa gitu mana boleh masuk area sekolah selain di pinggir jalan?!

dan yang paling gue inget sampe sekarang itu yang di Monas, juni kemaren. waktu itu ada kpop event, lebih tepatnya beberapa fandom korea kumpul disitu buat flashmob. pas bubar acara, sore sekitar jam setengah 5, anak-anak udah bubar. masih ada yang foto-foto, macem-macem pokoknya. pas gue liat sekeliling, ada bapak-bapak, mungkin usianya 60-an, pake baju lurik jawa sama peci kalo ga salah inget, dia nari jawa atau apalah itu ga jauh dari area dimana kita ada. ada musiknya juga walau volumenya kecil.

gue mikir kalo gue, bahkan siapa pun yang masih ada di area itu bisa liat dia karena posisinya masih 1 area. gue yakin dia melakukan itu demi cari nafkah. dia nari, kita nonton, trus ngasih upah atau saweran, mungkin sistemnya seperti itu. tapi ga ada dari kita yang deketin bapak-bapak itu, bahkan termasuk gue. gue cuma termenung liatin dia dari jauh. jujur gue mau ngasih uang waktu itu tapi gue ga liat dia menaruh kaleng atau apa pun untuk tempat nao uang dari penonton. gue ragu.

mungkin baginya disitulah kesempatan bagus dia karena mumpung banyak orang. yah area Monas dipenuhi sekitar 1000 orang kan jarang-jarang juga. mungkin dia berharap karena ada banyak orang, rejekinya akan datang.

ga ada yang deketin dia saat itu. setidaknya sampai gue pulang.

ironi banget memang. anak muda sekarang, termasuk gue, lebih suka budaya pop luar dibanding yang dari negara sendiri. gue ga menyalahkan anak muda lain atau gue sendiri tentang itu, tapi setidaknya kita juga bisa menghormati orang-orang yang masih mempertahankan itu, apalagi yang sumber pendapatannya memang dari situ.

gue kagum sama itu bapak-bapak. semoga nanti kalo gue ke Monas gue ketemu dia lagi dan pengen ngobrol banyak sama dia.

Selasa, 20 Desember 2011

My new hobby: Stalking

hmm...
barusan iseng buka salah satu blog temen di timeline yang ga deket juga sebenernya. tapi setelah baca malah galau sendiri gue. kadang kalo buka facebook suka iseng buka-buka photos temen yang ga pernah pasang fotonya sendiri. sering juga baca semua status dan wall yang masuk di fb temen.
mungkin ini ya enaknya stalking, bisa obrak-abrik apa yang mau diliat. ya itu kan konsekuensi berbagi di dunia maya. harus siap foto dan segalanya diobrak-abrik sama orang (dalam arti diliat aja loh ya, bukan dihack dll). kalo ga mau diliat ya ga usah pasang/nulis di internet, gampang kan?

lain kali perlu dicoba stalking seseorang, siapa kek gitu, secara langsung. perlu kayaknya

:)

halo...ini postingan pertama gue.
hari ini gue ga masuk kuliah karena tadi ngantuk banget. sumpah kuliah jam 7 rasanya seberat itu. harusnya gue ga boleh gitu ya,
trus mau kontrol ke rumah sakit juga tentang kaki gue. Kenapa? beberapa hari lalu gue kepleset di puskor ugm dan tempurung lutut kiri gue pindah rumah alias geser. rasanya? silakan coba split dengan kaki kanan ke depan dan kaki kiri belakang semaksimal mungkin dan 'memaksa' kaki belakang untuk lurus hingga timbul bunyi "tek" dan liat lutut Anda. kalau sudah geser, Anda pasti tau rasanya gimana.

oya tujuan gue bikin blog ini (semoga blog yang kali ini beneran serius setelah beberapa kali bikin blog dan gagal dipertahankan) adalah untuk menuangkan semua uneg-uneg gue sebagai mahasiswa, kpoper, anak, teman, manusia, dan sebagainya. ya jadi jangan kaget kalo di sini gue bakal frontal, ya ga frontal amat sih, yang jelas begitu lah. #gajelas

udah ya. Pagi :)