Barusan baca-baca artikel di sini dan nggak sengaja lihat artikel tentang witch hunt dan Korean media cycle. Witch hunt, aku baru pertama dengar istilah ini. Setelah cari artinya, ternyata semacam pembentukan pemikiran masyarakat terhadap suatu isu yang sulit dijelaskan atau dicari kebenarannya. Mm... mungkin ini bisa menjadi contoh sederhana. Beberapa waktu lalu di Indonesia pemberitaan mengenai terorisme sangat marak. Nggak bisa dipungkiri bahwa lama-lama sebagian masyarakat Indonesia maupun dunia memandang Islam sebagai teroris. Di lingkungan kampus sendiri kalo lihat mahasiswa yang aktif di forum-forum keagamaan (Islam) atau di sekolah yang aktif di Rohis pasti ada aja yang ngejek, bercanda atau nggak, kalo mereka adalah calon teroris. Apalagi yang kegiatannya aktif bahkan radikal. Padahal kita tahu bahwa Islam bukan teroris. Mungkin seperti itu gambarannya tentang witch hunt. Pemberian tuduhan yang salah kepada seseorang atau kelompok tertentu berdasarkan pada ketakutan umum yang ada di masyarakat. Kalo masih nggak ngerti, tanya Google.
Sedangkan cycle, di sini aku menganggapnya sebagai putaran atau arus pemberitaan. Selama ini yang aku pelajari di kampus tentang media di Indonesia hanya berkisar dari jurnalis mencari berita, dibawa ke news room untuk dipilih, mendapat pengaruh dari ideologi media itu sendiri, baru dipublikasikan. Aku melihat masyarakat kurang memberi pengaruh terhadap pemberitaan apalagi jika berita tersebut masih baru. Justru masyarakat di Indonesia lebih sering kaget saat sebuah artikel yang mencengangkan dikeluarkan.
Kalau di Korea ini mungkin ada kesamaan, tapi hal yang baru aku temukan ini lebih kepada jurnalis dan netizen (bagian dari masyarakat) yang membentuk sebuah berita. Begini polanya:
Controversy sparks among netizens -> Journalists release articles as if they caught exclusive content -> hateful replies ensue -> Journalists write more articles calling it a witch hunt -> more hate ensues -> something goes wrong with the celebrity -> Journalists release more articles blaming netizens... The average cycle of the Korean media
Dengan kata lain saat muncul kontroversi yang belum jelas sumbernya, jurnalis langsung membuat berita. Masyarakat menanggapi berita tersebut dan sebagian membantah, mencela atau memberikan feedback yang buruk. Kemudian jurnalis kembali menulis berita dan menyebutkan sebagai witch hunt. Feedback buruk terus berdatangan. Saat si tokoh yang diberitakan mengalami sesuatu hal yang tidak diinginkan atau hal negatif lainnya, jurnalis akan menyalahkan netizen.
Kalian bisa baca lebih tentang ini di sini
Jangan lupa untuk baca komentar-komentarnya karena itu cukup menarik, melihat pemikiran tiap orang mengenai isu ini. Yang menjadi pertanyaanku adalah apakah jurnalisme di Asia rata-rata punya pola yang sama? Aku belum belajar mengenai jurnalisme di berbagai negara Asia karena selama ini yang menjadi acuan pembelajaran di kampus adalah jurnalisme di indonesia dan Amerika. Aku agak kepancing sama salah satu komentar di link tersebut bahwa tidak hanya di Korea tapi rata-rata jurnalisme di Asia seperti itu. Jadi penasaran.
Oke sampai di sini dulu, aku mau ikutan trending-an ultahnya Myungsoo, hehe.
Bye
Tidak ada komentar:
Posting Komentar