Sekedar ingin mengeluarkan uneg-uneg nggak penting yang aku tangkap hari ini.
Hampir tiga tahun aku kuliah di jurusan ilmu komunikasi, jurusan di mana aku bisa belajar tentang media, jurnalisme, public relation dan periklanan. Aku mengambil konsentrasi media dan jurnalisme. Nggak, itu bukan dua konsentrasi tapi satu. Iya, media dan jurnalisme digabung. Sialnya begitu.
Dari awal masuk komunikasi sempat tertarik sedikit dengan jurnalisme, tapi setelah tahu bagaimana kerjanya dll, sampai hari ini aku nggak tertarik. Aku tertarik dengan media, yang cakupannya juga luas; media seperti radio, internet, televisi, konten media seperti film, musik, novel, dan industri media itu sendiri.
Pagi ini temanku datang ke kos untuk numpang nge-print majalah yang dia dan teman-temannya buat. Namanya Ayu, dia dikenal sebagai mahasiswi yang mengerti dunia jurnalisme secara nyata di kelas karena dia sudah aktif menjadi wartawan di salah satu koran lokal di Jogja. Dibanding kami yang hanya belajar teori di kelas, dia sudah tahu bagaimana kenyataannya di lapangan.
Kami cerita tentang banyak hal tadi, mulai dari harga kamar kost di Jogja sampai masalah jurnalisme.
"Satu majalah ini sebenernya aku semua yang buat." kata Ayu sambil menunggu hasil print majalah setebal 36 halaman itu selesai.
".... Maksud? kamu semua yang reportase?" Aku nggak yakin.
"Nggak, jadi ada juga yang cari di internet. Jadi ghost writer itu kadang lebih enak, Meg. Aku jadi ghost writer di koran nasional beberapa kali, sekali nulis bisa dapet 1 juta."
Aku nggak ngerti ghost writer itu apa. Aku tahu itu istilah dalam dunia jurnalisme, tapi artinya aku nggak tahu.
"Aku nggak ngerti. Ghost writer itu emang kerjanya gimana, Yu?"
"Jadi kan ada orang-orang yang terkenal seperti guru besar, dokter dll dan tulisannya bagus. Tapi mereka sibuk dan nggak punya waktu untuk nulis. Akhirnya mereka minta jasa ghost writer untuk nulis tentang satu topik. Topik atau inti tulisan itu merekayang nentuin, terus ghost writer tinggal nulis sama kembangin aja. Tapi nanti pas di media, tulisan itu atas nama mereka, bukan atas nama ghost writer."
Ooooo....
"Jangan gampang percaya, Meg, sama opini-opini yang ada di suratkabar. Opini yang ditulis sama guru besar atau orang penting lainnya itu sebenernya ditulis sama ghost writer, makanya tulisan sama tata bahasanya bagus."
Ilmuku tentang jurnalisme nambah satu.
Beberapa menit atau jam sebelum Ayu cerita tentang ghost writer, kami ngobrol tentang minat jurnalisme. Aku bilang kalo aku nggak minat di bidang yang satu itu. Aku nggak mau jadi wartawan.
"Emang kamu nanti maunya jadi apa sih, Meg?"
"Mm... impian terbesar sih kerja di media di Korea, antara KBS atau SBS."
"Lah, nanti jadi wartawan juga kan di sana?" Mungkin Ayu kurang ngeh kalo SBS KBS itu media penyiaran.
"Nggak, aku mau jadi orang yang kerjanya di belakang panggung."
"Ooh. Jangan jadi wartawan, Meg. Nggak enak. Jadi wartawan itu sibuk banget. Atau kalo kamu jadi wartawan di media mingguan aja, kaya majalah."
"Iya sih, kalo di majalah itu aku masih mau kayanya."
Ilmu jurnalisme ku nambah satu lagi.
Postingan ini hanya sekedar cerita. Untuk uneg-unegnya nanti di postingan berikutnya, masih nyambung sama post ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar