Judul:
Dunia Sophie
Pengarang:
Jostein Gaarder
Jenis
buku: Novel fiksi
Penerbit:
PT. Mizan Pustaka
Bahasa:
Indonesia
Tahun
terbit: 1996 (cetakan pertama)
Jumlah
halaman: 561 halaman
Filsafat
sering dianggap sebagai sebuah ilmu yang sulit dipahami oleh orang lain.
Membutuhkan pemikiran yang mendalam dan waktu yang tidak singkat untuk
mempelajari filsafat menjadi alasan utama orang enggan mempelajarinya. Namun
penulis asal Norwegia, Joestin Gaarder, berhasil mengemas sejarah dan pemikiran
seputar filsafat dalam karya fiksi yang mudah dimengerti bahkan bagi orang yang
tidak menyukai filsafat. Tidak heran bila novel berjudul asli Sofie’s Verden ini sangat diminati
banyak orang hingga menjadi megabestseller
novel di kancah internasional dan telah diterjemahkan ke dalam tiga puluh
lima bahasa.
Dunia
Sophie menceritakan tentang Sophie Amundsend, gadis Norwegia berusia 14 tahun
yang menerima surat dari orang tidak dikenal saat dirinya melihat tumpukan
surat di kotak pos rumahnya. Surat tanpa nama pengirim yang ditujukan pada
dirinya berisi pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti “Siapa kamu?”, “Dari
mana datangnya dunia?” dan sebagainya. Setiap hari Sophie menerima surat
misterius yang berisi pelajaran-pelajaran seputar filsafat. Tidak lama kemudian
Sophie akhirnya bertatap muka langsung dengan Alberto Knox, pria berusia 50
tahun yang selalu mengirimkan Sophie surat.
Alberto
dan Sophie dibingungkan dengan Albert Knag dan Hilde Moller Knag, dua sosok
yang tidak pernah mereka temui. Sophie dan Alberto tahu bahwa Hilde adalah anak
dari Albert, dan selalu mendapatkan kartu pos dari Albert untuk Hilde yang
dialamatkan ke rumah Sophie. Alberto dan Sophie semakin resah ketika mereka
merasa keberadaan Albert, yang dalam kartu pos menunjukkan bahwa dirinya
tinggal di Lebanon, sangat dekat dengan mereka seolah-olah dia tahu mengenai
apapun. Albert seolah-olah seperti Tuhan. Namun pada akhir cerita terungkap
bahwa Sophie dan Alberto adalah sosok buatan Hilde dan Albert, bukan sosok
utama dalam novel filsafat ini.
Ada
beberapa hal menarik dalam novel ini. Pertama, Dunia Sophie dipenuhi analogi-analogi yang sederhana dan mudah
untuk dibayangkan namun sesuai dengan pemikiran filsafat yang diberikan. Jika
dibandingkan dengan isi novel, penulis seolah menjadi Alberto yang akan
membagikan pengetahuannya kepada Sophie, yang tidak lain adalah pembaca. Pembaca
layaknya Sophie, diposisikan sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa mengenai
filsafat. Penyampaian materi yang sulit dipahami tidaklah mudah dan Gaarder
layaknya guru TK membimbing perlahan jalan pikiran pembaca (yang posisinya seperti
siswa) dengan dialog dua arah.
Kedua,
Gaarder tidak hanya memenuhi karyanya dengan pemikiran ala Plato hingga Freud
tapi juga menyisipkan misteri dan kehidupan sehari-hari layaknya novel remaja.
Pencarian sosok Albert dan Hilde merupakan salah satu contoh misteri yang
terkandung dalam cerita ini. Pembaca diajak untuk memiliki rasa penasaran, ikut
berpikir bersama Sophie dan Alberto. Selain itu, Gaarder juga menampilkan
aktivitas sehari-hari Sophie sebagai remaja. Percakapan dengan sahabatnya, pertengkaran
kecil dengan ibunya yang mencurigai Sophie sedang jatuh cinta membuat novel ini
tidak hanya untuk dibaca orang dewasa. Bahkan dengan adegan-adegan tersebut,
novel ini terkesan “semua umur”.
Karya
yang memiliki banyak keunggulan juga tidak bisa lepas dari kekurangan. Jika
dibaca secara keseluruhan, cara Alberto menjelaskan berbagai konsep dan sejarah
filsafat kepada Sophie terkesan monoton, dalam arti terdiri dalam kalimat
langsung yang panjang dan bahasanya yang lebih mirip dengan bacaan dalam buku
sejarah. Novel ini memang berbeda dengan novel kebanyakan yang bisa dibaca
dengan cepat. Pembaca tidak bisa melewati kejadian dan pemikiran yang butuh
pemahaman lebih dalam. Bagaimanapun juga, Dunia
Sophie bukan “novel ringan” yang dapat dibaca sambil lalu.
Filsafat
bukan sekedar menghapal para filsuf dan karyanya, bukan juga sekedar mengetahui
sejarah perkembangannya. Tujuan utama para filsuf dan orang-orang yang menekuni
filsafat adalah agar merasa bahagia sebagai manusia dan memahami makna hidup
sebenarnya. Tidak sedikit orang yang masa bodoh dengan apa yang telah terjadi
di sekitar dan menerima apa adanya seolah semua terjadi dari sananya. Namun
mempelajari filsafat berarti mencari tahu makna di balik apa-apa yang terlihat
biasa, menyelami arti dari sebuah peristiwa, menemukan jati diri sehingga
menjadi manusia yang bahagia dengan apa yang dimilikinya.
Novel
filsafat memang belum banyak jumlahnya. Namun Dunia Sophie bisa menjadi alternatif pilihan untuk memahami dunia
filsafat dari dasar. Novel ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan wajib untuk
pelajar agar lebih mudah memahami sejarah dan terbiasa berpikir kritis dalam
menyikapi fenomena yang terjadi di sekitarnya. Novel ini recommended untuk orang yang menyukai cerita fiksi yang berbobot
dan mengutamakan esensi dari sebuah karya sastra.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar