Rabu, 13 Maret 2013

Katanya.... [part 2]

Entah kenapa tiap ingat mata kuliah yang satu itu aku jadi bete sendiri. Jurnalisme Penyiaran.

Bisa nggak kalo jurnalisme-nya dicoret?

Dosen mewajibkan kami magang untuk mata kuliah ini, boleh di televisi atau radio mana aja se-Indonesia dalam kurun waktu maksimal 2,5 bulan. Tapi karena kami juga statusnya masih jadi mahasiswa aktif, mau nggak mau ya di Jogja dan sekitarnya. Awalnya kami senang karena kami pasti mendapat pengalaman baru dengan terjun langsung ke media penyiaran. Aku awalnya excited dan sudah membayangkan apa-apa yang akan aku lakukan sewaktu magang nanti.

"Karena ini mata kuliah jurnalisme penyiaran, jadi kalian magang di media yang ada program jurnalistiknya," kata dosen. Kami semua bingung.

Jadi, nggak boleh magang di radio atau televisi hiburan? Maksudku, kami 'nggak diperkenankan' mendapat pengalaman bekerja di media penyiaran, sebagai A B C D E yang nantinya akan bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin bekerja di media penyiaran, begitu? Apa kami yang kuliah di konsentrasi ini, atau aku, 'dipaksa' untuk lulus sebagai wartawan? Kenapa konsentrasi itu terlalu berkiblat pada jurnalisme? Padahal jelas yang diajarkan kepada kami selama hampir 2 tahun ini berbeda dengan faktanya di luar sana. Aku merasa kami diajarkan untuk idealis, kami diberi pemahaman tentang bagaimana menjadi jurnalis yang netral, bagaimana seharusnya menulis berita yang baik, bagaimana seharusnya pemimpin media tidak mencampuri pemberitaan, dan segala macam jurnalisme ideal lainnya.

Program jurnalistik?

Aku nggak habis pikir. Man, komunikasi itu bidang yang sangat luas. Lulusan komunikasi itu bisa jadi apa aja. Dan di luar sana ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan, fakultas bahkan universitas yang punya minat jurnalistik yang tinggi juga ingin menjadi wartawan. Banyak dari mereka yang tulisannya bagus. Perbedaan kami dan mereka seolah hanya terletak pada teori-teori dan konsep komunikasi yang kami pelajari. Tapi kenapa kami terlalu diarahkan untuk fokus pada bidang tertentu dan kurang mengembangkan bidang lainnya? Mungkin teman-teman yang memilih konsentrasi PR dan periklanan juga merasa bahwa kedua bidang tersebut tidak imbang dalam pembelajarannya. 

Mungkin akan sangat menyenangkan kuliah di jurusan ini jika sejak semester 3 tidak diadakan mata kuliah wajib. Yang minat jurnalisme, silakan ambil mata kuliah yang ada hubungannya dengan bidang tersebut, begitu juga yang lain. Hingga kami tidak merasa terpaksa melakukan, menjalani pembelajaran tertentu dan ujung-ujungnya kami nggak mengerti.

Coba sekarang kalo ada yang tanya aku "setelah lulus kamu mau jadi apa?" dan aku akan menjawab "aku mau jadi A B C D.."
Dan ketika mereka tanya "kalo nggak kerja jadi itu, jadi apa?" dan aku akan menjawab "Yaa, paling ujung-ujungnya jadi wartawan."

See?

Semua orang punya impian dan prioritas masing-masing. Aku menomorsatukan kerja di media penyiaran dan menomorduakan gabung di event organizer konser dan menomorsekiankan wartawan. Aku nggak sebenci ini dengan profesi tersebut, tapi aku jenuh dipaksa untuk menjadi sesuatu yang bukan kehendak ku.

udah ah capek

1 komentar:

  1. salah satu yang membedakan mahasiswa jurusan lain yang ingin jadi wartawan dan kita sebagai orang komunikasi itu adalah tekad dan niat. mahasiswa jurusan lain punya tekad kuat buat jadi wartawan meski berat. kita yang sejak awal udah tau kaya apa kerjanya jadi jenuh dan udah ga minat duluan...

    aku juga kepikiran buat kerja di majalah gitu.. bukan majalah yang serius macam tempo juga sih.. majalah hiburan..

    hehee itu aja deh :D

    BalasHapus