Selasa, 12 Maret 2013

Witch hunt? Asian journalism?

Barusan baca-baca artikel di sini dan nggak sengaja lihat artikel tentang witch hunt dan Korean media cycle. Witch hunt, aku baru pertama dengar istilah ini. Setelah cari artinya, ternyata semacam pembentukan pemikiran masyarakat terhadap suatu isu yang sulit dijelaskan atau dicari kebenarannya. Mm... mungkin ini bisa menjadi contoh sederhana. Beberapa waktu lalu di Indonesia pemberitaan mengenai terorisme sangat marak. Nggak bisa dipungkiri bahwa lama-lama sebagian masyarakat Indonesia maupun dunia memandang Islam sebagai teroris. Di lingkungan kampus sendiri kalo lihat mahasiswa yang aktif di forum-forum keagamaan (Islam) atau di sekolah yang aktif di Rohis pasti ada aja yang ngejek, bercanda atau nggak, kalo mereka adalah calon teroris. Apalagi yang kegiatannya aktif bahkan radikal. Padahal kita tahu bahwa Islam bukan teroris. Mungkin seperti itu gambarannya tentang witch hunt. Pemberian tuduhan yang salah kepada seseorang atau kelompok tertentu berdasarkan pada ketakutan umum yang ada di masyarakat. Kalo masih nggak ngerti, tanya Google.

Sedangkan cycle, di sini aku menganggapnya sebagai putaran atau arus pemberitaan. Selama ini yang aku pelajari di kampus tentang media di Indonesia hanya berkisar dari jurnalis mencari berita, dibawa ke news room untuk dipilih, mendapat pengaruh dari ideologi media itu sendiri, baru dipublikasikan. Aku melihat masyarakat kurang memberi pengaruh terhadap pemberitaan apalagi jika berita tersebut masih baru. Justru masyarakat di Indonesia lebih sering kaget saat sebuah artikel yang mencengangkan dikeluarkan.

Kalau di Korea ini mungkin ada kesamaan, tapi hal yang baru aku temukan ini lebih kepada jurnalis dan netizen (bagian dari masyarakat) yang membentuk sebuah berita. Begini polanya:

Controversy sparks among netizens -> Journalists release articles as if they caught exclusive content -> hateful replies ensue -> Journalists write more articles calling it a witch hunt -> more hate ensues -> something goes wrong with the celebrity -> Journalists release more articles blaming netizens... The average cycle of the Korean media

Dengan kata lain saat muncul kontroversi yang belum jelas sumbernya, jurnalis langsung membuat berita. Masyarakat menanggapi berita tersebut dan sebagian membantah, mencela atau memberikan feedback yang buruk. Kemudian jurnalis kembali menulis berita dan menyebutkan sebagai witch hunt. Feedback buruk terus berdatangan. Saat si tokoh yang diberitakan mengalami sesuatu hal yang tidak diinginkan atau hal negatif lainnya, jurnalis akan menyalahkan netizen.

Kalian bisa baca lebih tentang ini di sini

Jangan lupa untuk baca komentar-komentarnya karena itu cukup menarik, melihat pemikiran tiap orang mengenai isu ini. Yang menjadi pertanyaanku adalah apakah jurnalisme di Asia rata-rata punya pola yang sama? Aku belum belajar mengenai jurnalisme di berbagai negara Asia karena selama ini yang menjadi acuan pembelajaran di kampus adalah jurnalisme di indonesia dan Amerika. Aku agak kepancing sama salah satu komentar di link tersebut bahwa tidak hanya di Korea tapi rata-rata jurnalisme di Asia seperti itu. Jadi penasaran.

Oke sampai di sini dulu, aku mau ikutan trending-an ultahnya Myungsoo, hehe.
Bye

Senin, 11 Maret 2013

dream (n) : something I believe

When I realized there's someone out there had had my biggest dream, I felt down.
I admitted I'm jealous 

 1st second....
Damn, how can she get my-well-okay-it's-perfect-dream and look... here I am sitting, ignoring my assignment and reading her story that makes me speechless. it's so... damn. She stole my dream!!



2nd second....




5th...

Ugh!



30th...

It's so unfair..





1 minute later..


..... I lent her my dream. Maybe it wasn't hers, the goal of her life too
I can surpass her in future because I dream and I believe.


No, I will get more....moooooore than what she got now, what I called "dream".


just see

Minggu, 10 Maret 2013

current song: ICE by Phantom

masih mencari lebih banyak lagi grup musik baik dari dalam maupun luar negeri yang genrenya seperti grup:

Indonesia
maliq & d'essential, bunglon, ecoutez, mocca

Korea
clazziquai project, hourmelts, urban zakapa, 10cm, verbal jint, leessang, MFBTYphantom

Jepang
perfume, meguro shoji

Western
Jamiroquai, avicii, daft punk, LMFAO, Ne Yo

yang warna ungu itu alirannya campuran antara elektronik sedikit, acid jazz, jazz, bossa nova, sama agak pop. Aku sendiri bingung bedanya jazz sama acid jazz itu gimana. Oya sebenernya grup Casker dari Korea juga bagus tapi nggak gitu suka sama suara vokal perempuan yang terlalu soft. Meguro shoji aku suka waktu dia ngiri soundtrack Persona

yang warna merah itu hip hop dan rap. Aku nggak gitu yakin sih genrenya MFBTY itu apa tapi mengarah ke hip hop juga, Kalo phantom agak pop juga

yang warna biru itu alirannya elektronik, disco, agak dance juga

yang oranye RnB. tapi belum terlalu nyari sih karena tergantung siapa penyanyinya. Selama ini baru suka Ne Yo



Jadi kalo ada yang mau kasih rekomendasi grup musik yang alirannya mirip seperti grup-grup di atas, aku berterima kasih banget loh :')


Continuity #1: 60 Seconds by Kim Sunggyu

Siang :D

Mulai sekarang mau coba menulis tentang continuity, atau bisa dibilang kontinuitas dari sebuah scene baik dalam music video, iklan, film dan produk audio visual lainnya. Hal ini penting dalam sinematografi atau saat shooting film agar penonton nggak bingung dan adanya kelanjutan dari satu shot ke shot lain. Ya itu tadi, kontinuitas. Sebenernya udah lama hobi mengamati detil dari tiap scene video yang ada dan udah berhasil menemukan beberapa tapi karena nggak ditulis jadi lupa film dan music video apa aja yang ada 'cacat'nya.

Kebetulan siang ini lagi nonton music video Kim Sunggyu yang judunya 60 Seconds. Baru selesai download dan langsung diputar. Ini videonya



Nonton di scene awal langsung menemukan kesalahan


Sekitar menit 00:10-00:12 ada adegan Myungsoo mau lipat payung. Bisa diliat ya di atas kalo payungnya itu kering, sama sekali nggak ada tetesan air di ujung-ujungnya


Beberapa detik kemudian ceritanya Myungsoo sudah berhasil melipat payungnya. Tapi kok ada air? Air datang dari mana? Shot pertama di video memang tetesan air hujan. Kalau Myungsoo ceritanya pakai payung saat hari hujan dan ternyata cuaca kembali cerah sehingga dia harus melipat payungnya, kenapa pas mau dilipat tadi (gambar 1) sama sekali nggak ada air? Waaah




Mmm...udah sih itu aja sebenernya .__.
Cerita di music video-nya emang agak bikin bingung, tapi berkat baca review dari sini jadi tau ceritanya. Kurang lebih begitu


Sabtu, 09 Maret 2013

T_______T


malam ini bete-nya lagi numpuk. nggak, nggak ada hubungannya sama mubank

pertama, lagi nggak bisa mikir buat garap tugas.tugasnya disuruh buat kartu ucapan ulang tahun ke rekan kerja sama surat ucapan hari jadi ke perusahaan rekanan. dua-duanya belum digarap, padahal deadline senin pagi.
kedua, ngantuk. ini ayah lagi di kos, lagi ada perlu di jogja jadi numpang tidur di kos selama dua hari. besok pagi harus udah balik ke jakarta. malam ini rencananya diajakin makan, tapi karena nggak ada kendaraan jadi nggak jadi makan. sebenernya sih nggak apa-apa. tapi gue suntuk di kosan doang
ketiga, gue ngantuk tapi nggak mau tidur
keempat, dari tadi cuma bisa liatin timeline di depan laptop. nggak bisa fangirling, buka tumblr dll karena ada ortu
kelima, dan yang crucial, gue ngerasa udah bosen sama yang namanya kuliah. apa yang gue dapet di kampus berbeda dengan kenyataan di luar sana. kalo gitu, kenapa dari awal nggak diajarin sekalian yang persis dengan kenyataan di luar? untuk apa lama-lama ber-idealis tinggi kalo nyatanya pas di luar nanti kita juga yang ditundukkan oleh 'mereka'

udah

gue bosen kuliah

Jumat, 08 Maret 2013

Money Oriented?

Hai

One of my favorite korean group will perform on Music Bank in Jakarta tonight. Aku nggak dateng karena dari awal kurang tertarik sama artis-artisnya dan lagi nggak ada uang juga. Sekarang lagi menabung untuk Invasion-nya Infinite, padahal belum tahu kapan mereka mau tour dan datang ke Indonesia. Selain itu aku juga nggak suka nonton konser yang banyak artisnya. Sebagian orang suka karena itu 'nonton hemat' sekali bayar bisa menikmati performa banyak artis, tapi bagiku dan beberapa orang konser seperti itu jadi nggak total, nggak bisa fokus sama grup yang disuka.

Oke, sekarang aku nulis bukan untuk bahas Mubank. Tadi pagi promotor Mubank yaitu BigDaddy nge-tweet tentang kehadiran Infinite di salah satu program televisi nasional besok Minggu. Setahuku Infinite memang akan balik ke Korea pada Minggu malam. Sempat bingung juga, "Ngapain mereka pas hari Minggu? Kenapa nggak langsung pulang aja?" Dan pertanyaan itu terjawab tadi pagi. Iya, promotornya sendiri yang bilang kalau mereka akan tampil (entah cuma interview atau nyanyi juga) di salah satu stasiun televisi nasional. 

Kita semua tahu kalau di Indonesia ada sebuah program musik yaitu Dahsyat di stasiun televisi RCTI yang sudah langganan memanggil artis luar negeri yang datang ke Indonesia sebagai bintang tamu mereka. Semua sudah tahu itu. Dan selama ini tanggapan dari teman-teman yang artis favoritnya dijadikan bintang tamu di program itu cenderung negatif. Kenapa? Beragam alasannya. Aku pribadi jarang menonton televisi, tapi jika ditanya mengapa teman-teman bereaksi negatif, aku bisa jawab. Toh kadang aku juga menonton acara itu juga. Dari banyak opini yang telah aku dengar, mereka mengeluhkan MC-nya. Aku nggak usah sebut nama, teman-teman pasti sudah tahu siapa orangnya dan bagaimana karakternya ketika membawakan acara.

Awalnya aku berusaha nggak percaya kalau Infinite akan datang ke Dashyat walau feeling itu selalu ada. Kata teman, mungkin aja tampil di TransTV karena mereka adalah media partner dari Mubank. Oke, aku cukup lega. Aku lega bukan karena tampil di stasiun mana, tapi tampil di acara apa sehingga aku bisa memerkirakan apa yang akan dilakukan oleh Infinite dan program itu sendiri. Tadi aku sempat keluar beli oleh-oleh untuk dibawa ayahku pulang ke Jakarta. Di jalan sempat online Twitter juga dan mendapat kabar bahwa Infinite beneran datang ke Dahsyat besok.




Okay. I barely have respond. I just..... damn. I hate it



Pemikiran pertama yang muncul di kepalaku

"MNC do know how to increase their own program rating"

Aku nggak ngerti. Kok bisa, media partner-nya bukan mereka tapi artis yang bukan mereka dukung malah tampil di stasiun televisi mereka? Setelah dipikir-pikir media partner konser sama kontrak artis mau kemana besoknya itu nggak ada hubungannya. Mungkin Trans hanya me-support konsernya dan RCTI lebih dulu membuat kontrak dengan Infinite untuk datang sebagai bintang tamu di Dahsyat. Maka dari itu mereka baru akan pulang dari Jakarta Minggu malam.

Sip. Masalah media selesai.

Sekarang, yang masih buat teman-teman shock dan merengek-rengek di timeline adalah program acaranya. "Kenapa harus Dashyat?" "Gue ga rela!" "Nanti kalo Myungsoo diapa-apain sama MC-nya gimana?" dan banyak komentar negatif lainnya. Tapi lihat kan, bisa diambil simpulan bahwa banyak orang yang kurang menyukai program ini karena MC-nya.

Aku nggak mau menjelaskan kelakuan MC-nya gimana karena aku jarang nonton dan males juga jelasinnya -____-

Tapi sempat terpikir nggak, kok MC-nya nggak diganti sih, atau gimana gitu?

Balik ke judul. Yes. Money oriented. Bukannya masyarakat Indonesia sukanya tontonan yang buat ketawa? Ya apa aja, mau ejek-ejekan, mau marah-marahan, marah beneran, ngapain aja pokoknya bisa buat ketawa itu pasti disuka. Pasti yang nonton banyak. Pas ditanya acara itu tentang apa dan apa esensinya, malah bingung. Heran...
Dan orang-orang yang bisa buat ketawa itulah yang dipertahankan media. Tahu kan bahwa si MC pernah ditegur beberapa kali oleh KPI? Tapi kenapa kok masih aja nongol di televisi? Karena mereka-lah mesin uang media. Segala perbuatan negatif yang dilakukan orang dalam acara itu, baik MC, musisi, cameraman dll  adalah tanggung jawab media atau acara tersebut karena orang-orang itu dipakai dan dibayar untuk program mereka. 

Aku jadi ingat kelas Program Siaran TV di kampus "produk televisi diciptakan atas dua hal, money oriented atau quality oriented. Dan produk yang diciptakan atas keduanya itu jarang dan susah diwujudkan."

Sebenarnya Dahsyat itu oke-oke aja kalau menurutku. Aku pribadi nggak menuntut program musik di Indonesia sebaik di Korea yang model panggung tiap artis berbeda sehingga ada yang harus dilakukan live, ada yang delayed live (acara direkam beberapa jam sebelum disiarkan sehingga masih ada kesempatan untuk editing/sensor), harus nggak lipsync dll. Hanya satu, aku ingin image program musik Indonesia itu membaik. Oke lah kalau dari segi visual (tata panggung) dan musik (lipsync/nggak) disampingkan sejenak dan fokus pada attitude dari pembawa acaranya. Secara nggak sadar pembawa acara itu wajah program/ Orang biasanya menonton suatu program televisi yang dilihat pertama kali adalah pembawa acaranya. Yah kalian tahu omonganku ini akan mengarah ke mana (mulai capek ngetik)

Dahyat itu oke aja kalau pembawa acaranya berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat. Sebaiknya sebuah program terkenal karena konsepnya, bukan attitude yang dimiliki pembawa acara.

dadah~